DAIRI, Sumutpos.jawapos.com – Suasana sakral dan penuh sukacita dalam sebuah pesta adat Batak mendadak berubah menjadi duka. Seorang parsinabul—juru bicara dalam rangkaian adat—meninggal dunia saat tengah menjalankan tugasnya di Desa Berampu, Kecamatan Berampu, Kabupaten Dairi, Senin (16/3/2026).
Sosok tersebut diketahui bernama Molihee Marbun (63), warga Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Ia hadir sebagai bagian dari rombongan pengantin perempuan dalam prosesi adat yang digelar usai pemberkatan pernikahan di Gereja HKBP Berampu.
Peristiwa tak terduga ini disampaikan oleh perangkat desa setempat, Sudarno Sihombing. Menurutnya, almarhum sempat menjalankan peran adatnya dengan baik sebelum akhirnya ambruk di tengah acara.
“Beliau masih sempat menyampaikan mandok hata huhuasi, yakni ucapan terima kasih sekaligus undangan kepada para tamu untuk melanjutkan prosesi adat di kediaman mempelai pria,” ujarnya.
Prosesi yang berlangsung merupakan bagian dari tradisi Batak yang dikenal sebagai manggarar adat na gok, rangkaian lengkap pesta adat yang sarat makna simbolik—mulai dari jamuan makan bersama, pembagian jambar (daging adat), hingga penyampaian ucapan syukur dari kedua belah pihak keluarga.
Namun, di tengah suasana hangat dan penuh kebersamaan itu, situasi berubah drastis. Saat perwakilan marga Manullang menyampaikan kata sambutan, Molihee yang sebelumnya duduk, tiba-tiba terjatuh ke belakang dan tak sadarkan diri.
Kejadian tersebut sontak membuat acara terhenti. Almarhum segera dilarikan ke RSUD Sidikalang menggunakan kendaraan pribadi. Namun, harapan tak berujung baik.
Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Sidikalang, Lestina Sianturi, menyampaikan bahwa pasien tiba dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Informasi dari pihak keluarga menyebutkan, sebelum kejadian tidak ada keluhan kesehatan yang disampaikan almarhum. Bahkan, ia diketahui mengemudi sendiri dari Riau menuju lokasi acara.
Kepergian Molihee Marbun meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi komunitas adat yang kehilangan sosok parsinabul berpengalaman. Di tengah riuhnya tradisi dan kebersamaan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dapat berubah dalam sekejap—bahkan di momen yang paling membahagiakan sekalipun.(rud/han)
Editor : Johan Panjaitan