Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Menurut Pengamat, Longsor di Sembahe karena Hujan Berkepanjangan dan Aktivitas Manusia

Juli Rambe • Kamis, 9 April 2026 | 11:51 WIB
Pengamat Hidrologi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Ir. Makmur Ginting. (Dok: istimewa)
Pengamat Hidrologi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Ir. Makmur Ginting. (Dok: istimewa)

 

MEDAN, SUMUT POS- Pengamat hidrologi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Ir. Makmur Ginting, mengungkapkan bahwa bencana tanah longsor yang terjadi di kawasan Sembahe, Kabupaten Deli Serdang, dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia yang memperparah kondisi lereng.

Menurut Makmur, faktor utama penyebab longsor saat ini tidak lagi semata-mata hujan dengan intensitas tinggi, melainkan durasi hujan yang berlangsung lama hingga berjam-jam tanpa henti. Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikatnya.

“Sekarang ini bukan hanya hujan deras yang menjadi penyebab longsor, tetapi hujan yang berlangsung lama. Misalnya hujan yang terjadi sejak tanggal 7 hingga dini hari tanggal 8, itu membuat tanah menjadi sangat jenuh air,” ujar Makmur saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Kamis (9/4/2026).

Baca Juga: Tamatan SMA Siap- siap, Bea Cukai Buka Lowongan

Ia menjelaskan, kondisi tanah yang jenuh air akan meningkatkan beban pada lereng-lereng perbukitan, khususnya di kawasan Bukit Barisan yang secara geografis memang rentan terhadap pergerakan tanah. Ketika daya dukung tanah melemah, lereng tidak lagi mampu menahan tekanan, sehingga memicu longsor.

Selain faktor alam, Makmur juga menyoroti peran aktivitas manusia yang dinilai turut mempercepat terjadinya longsor. Ia menyebut, praktik pemotongan tebing atau penggalian tanah tanpa perhitungan teknis yang tepat dapat mengurangi stabilitas lereng.

“Banyak masyarakat yang menggali atau memotong tebing tanpa disadari telah mengurangi sudut geser tanah. Ini sangat berbahaya karena mempercepat potensi longsor, apalagi saat kondisi tanah sudah jenuh air,” jelasnya.

Terkait upaya mitigasi, Makmur menekankan pentingnya penerapan sistem peringatan dini (early warning system) di wilayah-wilayah rawan longsor. Menurutnya, sistem ini dapat membantu masyarakat untuk lebih waspada dan melakukan evakuasi lebih cepat sebelum bencana terjadi.

Selain itu, ia juga menilai edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah krusial dalam mengurangi risiko bencana. Warga diimbau untuk tidak mendirikan permukiman maupun melakukan aktivitas di area lereng yang berpotensi longsor.

“Solusi paling utama adalah menghindari daerah lereng yang berbahaya. Kalau tanah sudah jenuh air dan lerengnya terganggu, maka risiko longsor sangat tinggi,” tegasnya.

Makmur juga mengkritisi penggunaan metode penanganan seperti pemasangan jaring kawat atau penahan sederhana di lereng, yang menurutnya tidak efektif dalam menghadapi kondisi tanah jenuh akibat hujan berkepanjangan.

“Metode seperti jaring itu tidak cukup kuat menahan tanah yang sudah jenuh air. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif,” tambahnya.

Ia pun menegaskan bahwa langkah preventif melalui peningkatan kesadaran masyarakat dan kesiapsiagaan pemerintah menjadi kunci utama dalam mencegah jatuhnya korban akibat bencana longsor di masa mendatang.

“Perlu ada sosialisasi yang serius dan berkelanjutan kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor, agar mereka memahami risiko dan dapat mengambil langkah pencegahan,” pungkas Makmur. (san/ram)

Editor : Juli Rambe
#longsor di sembahe #penyebab longsor di sembahe #dampak longsir di sembahe