Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ini Kronologi Kisruh Halal Bihalal KA KAMMI Sumut

Juli Rambe • Senin, 20 April 2026 | 12:46 WIB
CEDERA: Salah satu kader dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumatera Utara yang mengalami cedera akibat terlibat kericuhan di Kantor Gubernur Sumut, Minggu (19/4/2026). (Dok: istimewa)
CEDERA: Salah satu kader dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumatera Utara yang mengalami cedera akibat terlibat kericuhan di Kantor Gubernur Sumut, Minggu (19/4/2026). (Dok: istimewa)

 

MEDAN, SUMUT POS - Ketua Pengurus Wilayah (PW) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumatera Utara, Irham Sadani Rambe, memaparkan kronologi kericuhan yang terjadi dalam kegiatan Halal Bihalal Keluarga Alumni KAMMI (KA KAMMI) Sumut pada Minggu, 19 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB tersebut awalnya digelar sebagai ajang silaturahim antaralumni dan kader. Namun, suasana berubah menjadi ricuh akibat adanya kesalahpahaman dan dugaan pelanggaran kesepakatan yang telah dibangun sebelumnya.

Irham menjelaskan, dua hari sebelum acara, tepatnya Jumat (17/4/2026) pukul 19.30 WIB, dirinya bertemu dengan Ketua KA KAMMI Sumut, Abdul Rahim Siregar, di sebuah rumah makan di Jalan Abdullah Lubis, Medan.

Baca Juga: Neflix Batalkan Dokumenter One Direction

Dalam pertemuan tersebut, kata Irham, Abdul Rahim menyampaikan klarifikasi bahwa tidak akan ada agenda pelantikan yang mengatasnamakan PW KAMMI Sumut dalam kegiatan Halal Bihalal tersebut.

Selain itu, Abdul Rahim juga disebut telah menyampaikan permohonan maaf atas beredarnya flyer yang mencantumkan agenda pelantikan, termasuk pelantikan PW KAMMI Sumut. Ia juga berkomitmen menjaga persatuan organisasi serta tidak memicu konflik.

“Dalam pertemuan itu disepakati bahwa kader boleh hadir untuk meramaikan acara, namun tidak mengundang saya dan Hasan Basri untuk menghindari potensi kericuhan, serta tidak menghadirkan pengurus pusat,” ujar Irham saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Senin (20/4/2026).

Namun, menurut Irham, kesepakatan tersebut tidak dijalankan saat acara berlangsung. Kehadiran sejumlah pihak yang disebut sebagai “penumpang gelap” dan mengatasnamakan PW KAMMI Sumut serta pengurus pusat memicu protes dari kader di lokasi.

Kericuhan bermula ketika seorang kader, Irwandi, maju untuk mempertanyakan kehadiran sejumlah tokoh di dalam aula, termasuk Nazmul Watan dan Hasan Basri.

“Karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas, kader kami meminta agar yang bersangkutan meninggalkan ruangan. Dari situ situasi mulai memanas,” jelas Irham.

Ketegangan kemudian meningkat menjadi aksi dorong-dorongan dan tarik-menarik antar peserta. Irham juga menyebut adanya dugaan provokasi dari sejumlah pihak yang memanggil aparat Satpol PP untuk mengamankan situasi.

Dalam insiden tersebut, terjadi aksi kekerasan yang melibatkan beberapa pihak. Salah satu panitia acara, Akhmad Khairul Umam, disebut memukul seorang kader bernama Alwi di bagian pelipis.

Melihat kejadian itu, seorang kader lainnya, Muslimin, secara spontan melakukan pembalasan hingga menyebabkan Akhmad Khairul Umam terjatuh dan mengalami luka di kepala.

Kericuhan berlanjut ketika Muslimin diduga dikeroyok oleh sejumlah alumni sebelum akhirnya diamankan oleh petugas Satpol PP dan dikeluarkan dari lokasi.

“Bahkan saat proses pengamanan, ada kader kami yang kembali mengalami kekerasan,” kata Irham.

Ia juga mengungkapkan adanya dugaan tindakan tidak pantas, termasuk seorang kader yang ditampar oleh Abdul Rahim Siregar serta ancaman yang dilontarkan di lokasi kejadian.

Irham menyebutkan, dalam peristiwa tersebut, sedikitnya enam kader KAMMI mengalami luka akibat pemukulan, dengan kondisi lebam di bagian kepala dan tubuh.

Sementara dari pihak lain, satu orang dilaporkan mengalami luka di kepala yang diduga akibat terbentur dinding saat insiden berlangsung.

Ia juga membantah isu yang beredar bahwa pihaknya melakukan penyerangan dengan jumlah massa besar.

“Kader kami yang hadir hanya sekitar 10 orang. Jadi tidak benar jika disebut melakukan penyerangan terhadap ratusan orang di dalam aula,” tegasnya.

Irham menegaskan bahwa kericuhan tersebut bukanlah hal yang diinginkan oleh pihaknya. Ia mengutuk segala bentuk kekerasan dalam aktivitas organisasi dan menekankan pentingnya menjaga etika serta persaudaraan.

Menurutnya, insiden ini terjadi karena tidak dijalankannya kesepakatan awal, serta adanya tindakan kekerasan yang terlebih dahulu diterima oleh kader yang menyampaikan protes.

“Kami sangat menyesalkan kegiatan yang seharusnya menjadi momentum mempererat ukhuwah justru diwarnai perpecahan,” ujarnya.

Ia pun mengimbau seluruh kader KAMMI di Sumatera Utara agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Saya mengajak seluruh kader untuk tetap tenang, menjaga persaudaraan, dan tidak terjebak dalam opini maupun fitnah yang dapat merusak organisasi,” pungkas Irham.

Diketahui, hingga saat ini tidak ada kader yang ditahan pasca-insiden tersebut. Dan empat orang kader KAMMI masih dirawat secara intensif dirumah Sakit Haji Medan.(san/ram)

Editor : Juli Rambe
#kericuhan halal bihalal kammi sumut #KAMMI Sumut