MEDAN, SUMUT POS- Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menyoroti keras insiden kericuhan yang terjadi dalam kegiatan halal bihalal Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) Sumut kemarin.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak sejalan dengan makna utama dari halal bihalal yang seharusnya menjadi ajang mempererat silaturahim dan saling memaafkan.
Hal tersebut disampaikan Bobby Nasution dalam sambutannya pada acara doa bersama (tepung tawar) bagi calon jemaah haji Provinsi Sumatera Utara tahun 2026, yang digelar di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: Jennifer Coppen Foto Prewedding Dadakan di Paris
Namun demikian, Bobby tidak menutupi kekecewaannya terhadap insiden kericuhan yang terjadi kemarin. Ia menilai peristiwa tersebut mencederai esensi halal bihalal.
“Kita sangat menyayangkan, kemarin di tempat ini juga ada kegiatan yang disebut halal bihalal, tapi justru berakhir dengan pertumpahan darah,” ujar Bobby.
Ia menegaskan bahwa halal bihalal seharusnya menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarsesama serta saling memaafkan atas kesalahan dan kekhilafan, bukan malah memicu konflik.
“Makna halal bihalal itu adalah saling memaafkan, menjaga silaturahmi. Bukan justru menimbulkan keributan atau masalah baru,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bobby meminta jajaran pemerintah daerah, khususnya Sekretaris Daerah (Sekda), untuk melakukan evaluasi terhadap penggunaan fasilitas dan ruang kegiatan di lingkungan kantor gubernur. Hal ini dinilai penting guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Ia juga menyinggung adanya dampak kerugian yang timbul akibat insiden tersebut, termasuk pengeluaran anggaran yang tidak semestinya terjadi.
“Kita minta ke depan penggunaan ruangan ini benar-benar diperhatikan. Jangan sampai kejadian seperti kemarin terulang lagi, apalagi sampai menimbulkan kerugian,” katanya.
Bobby berharap seluruh pihak dapat mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut dan kembali menempatkan nilai-nilai kebersamaan, ketertiban, serta saling menghormati sebagai prioritas dalam setiap kegiatan.
Menurutnya, menjaga kondusivitas dalam setiap acara bukan hanya tanggung jawab penyelenggara, tetapi juga seluruh peserta yang hadir.
“Mari kita jaga bersama kondusivitas. Jadikan setiap kegiatan, terutama yang membawa nama silaturahmi dan keagamaan, benar-benar sesuai dengan makna dan tujuannya,” pungkas Bobby.(san/ram)
Editor : Juli Rambe