RANTAUPRAPAT, Sumutpos.jawapos.com – Siang yang semula berjalan biasa di Jalan Ahmad Yani mendadak berubah menjadi panggung ketegangan. Di antara rimbun pelepah pohon pinang, seekor ular sanca batik sepanjang sekitar dua meter melingkar tenang—seolah tak terusik oleh hiruk-pikuk kota di bawahnya, Rabu (22/4/2026).
Kehadirannya pertama kali disadari Ucok, petugas parkir di depan Kedai Kopi Akur Bienam. Sekilas gerakan di antara daun membuatnya curiga. Saat dipastikan, suaranya sontak memecah suasana.
“Itu ada ular di atas pohon pinang!”
Seruan itu menyebar cepat. Pengunjung kedai beranjak dari kursi, meninggalkan cangkir kopi yang masih hangat. Dalam hitungan menit, lokasi berubah menjadi titik kumpul warga. Mata-mata menengadah, ponsel-ponsel terangkat, dan arus lalu lintas pun melambat—terkunci oleh rasa penasaran.
Di ketinggian yang tak mudah dijangkau, sanca itu tampak tenang, melilit batang pinang dengan kuat. Namun, ketenangan itu justru memunculkan kegelisahan: bagaimana jika ia jatuh? Atau turun ke keramaian?
Baca Juga: Bupati Batu Bara Sampaikan LKPJ 2025 dan Nota Ranperda di Paripurna DPRD
Di tengah kerumunan yang hanya bisa menonton, muncul satu sosok yang mengambil langkah berbeda. Aidil Munthe, warga yang kebetulan melintas, memilih mendekat. Bukan petugas, bukan pula relawan terlatih—hanya seseorang dengan keberanian yang tak banyak dimiliki orang lain siang itu.
Kesempatan datang saat sebuah truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup melintas. Dengan izin sopir, Aidil naik ke bak truk, memposisikan dirinya sejajar dengan ular. Jarak kini bukan lagi soal meter, melainkan soal keberanian dan ketenangan.
Evakuasi pun dimulai—perlahan, penuh perhitungan. Sanca batik dikenal dengan kekuatan lilitannya. Setiap sentuhan membuatnya semakin mengencang. Warga yang membantu harus ekstra hati-hati. Satu kesalahan kecil bisa berujung risiko besar, baik bagi mereka maupun kerumunan di bawah.
Baca Juga: Garuda Jaya Paksa Samator Mainkan Leg Ketiga Usai Menang Tipis 3-2
Kayu digunakan untuk mengalihkan perhatian kepala ular, sementara di bawah, warga lain bersiaga dengan goni besar. Proses itu berlangsung menegangkan, nyaris tanpa jeda, selama hampir 20 menit.
Ketika akhirnya lilitan mulai mengendur, momentum tak disia-siakan. Ular itu berhasil diarahkan turun dan dimasukkan ke dalam goni dengan hati-hati. Tepat saat mobil pemadam kebakaran tiba, situasi telah terkendali.(fdh/han)
Editor : Johan Panjaitan