SERGAI, Sumutpos.jawapos.com-Dari medan tugas di negeri konflik hingga ke pangkuan tanah kelahiran, perjalanan terakhir Rico Pramudia menjadi simbol pengabdian tanpa batas. Prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian dunia itu dijadwalkan tiba di rumah duka di Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (28/4/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB.
Jenazah almarhum akan disemayamkan di kediaman orang tuanya di Dusun VII, Desa Dolok Manampang, Kecamatan Dolok Masihul. Suasana duka telah menyelimuti keluarga sejak kabar kepergian itu tiba—sebuah kehilangan yang tak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga bangsa.
Sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian, almarhum yang sebelumnya berpangkat Praka dianugerahi kenaikan pangkat satu tingkat menjadi Kopral Dua (Kopda) Anumerta. Sejak bergabung sebagai prajurit pada 2015, Rico dikenal sebagai bagian dari pasukan yang menjalankan tugas-tugas negara dengan dedikasi tinggi.
Baca Juga: Kejar Opini WTP, Bupati Paluta Tekankan Transparansi dalam Pemeriksaan LKPD 2025
Prosesi pemakaman akan dilaksanakan secara militer pada Rabu (29/4/2026) di Taman Makam Pahlawan Lubuk Pakam—tempat peristirahatan terakhir bagi para pejuang bangsa. Rangkaian upacara telah dipersiapkan oleh jajaran TNI, termasuk gladi bersih sebelum kedatangan jenazah.
Danramil Tanjung Beringin, Mayor Inf Hairul Hadi, memastikan seluruh tahapan penghormatan berjalan dengan khidmat. Sejumlah pejabat TNI juga turut hadir mendampingi keluarga, menegaskan bahwa kepergian ini adalah duka bersama.
Rico Pramudia merupakan bagian dari Satgas Kontingen Garuda dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Ia gugur pada 24 April 2026 setelah mengalami luka berat akibat serangan tank di wilayah konflik Lebanon Selatan. Meski sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit di Beirut, nyawanya tidak tertolong.
Insiden tersebut juga merenggut nyawa beberapa prajurit TNI lainnya yang tengah menjalankan mandat perdamaian dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kepergian Kopda Anumerta Rico Pramudia bukan sekadar kehilangan seorang prajurit, tetapi pengingat akan harga mahal dari sebuah misi perdamaian. Di balik baret biru yang dikenakan, ada risiko yang tak pernah sederhana—dan pengorbanan yang kerap berujung sunyi.
Kini, ia pulang. Bukan sebagai prajurit yang kembali dari tugas, melainkan sebagai pahlawan yang menyelesaikan pengabdiannya hingga akhir.(fad/han)
Editor : Johan Panjaitan