BINJAI, Sumutpos.jawapos.com-Rumah sederhana di Jalan Nenas, Gang Nenas I, Kelurahan Sukaramai, Binjai Barat, dipenuhi suasana duka. Di sanalah Kiki Tresia (30) menahan tangis, mengenang suaminya, Rasdi Fauzi (39), yang pergi jauh demi mencari nafkah—namun tak pernah kembali.
Rasdi, yang sebelumnya bekerja sebagai sales di Binjai, memilih merantau ke Kamboja setelah berbulan-bulan menganggur. Keputusan itu bukan tanpa penolakan. Keluarga dan istrinya sempat melarang, tetapi tekanan ekonomi mendorongnya tetap berangkat melalui jalur nonprosedural, mengikuti jejak seorang teman.
“Katanya gajinya memang tidak besar, tapi setidaknya ada,” ujar Kiki lirih, mengenang percakapan terakhir sebelum keberangkatan suaminya.
Di negeri asing, Rasdi bekerja di sektor yang kerap dikaitkan dengan praktik penipuan daring. Selama lebih dari setahun, komunikasi masih terjalin. Hingga akhirnya, kabar buruk datang. Razia terhadap pekerja migran ilegal membuat situasi kian tidak pasti. Kiki sempat meminta suaminya pulang, namun Rasdi memilih bertahan—menunggu bonus yang tak pernah benar-benar datang.
Harapan itu berubah menjadi petaka. Tekanan kerja, kondisi kesehatan yang menurun, dan dugaan kurangnya asupan makanan membuat kondisi Rasdi memburuk. Informasi terakhir yang diterima keluarga menyebutkan ia meninggal dunia pada Minggu (3/5/2026).
“Katanya dia tidak makan. Badannya sampai membiru,” ungkap Kiki, menahan isak.
Yang lebih menyayat, hingga hari ketiga setelah kematiannya, jenazah Rasdi disebut masih berada di mes tempat ia bekerja di Poipet, Kamboja. Tanpa penanganan layak, tanpa kepastian pemulangan.
Upaya keluarga untuk mendapatkan bantuan belum membuahkan hasil maksimal. Komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja disebut belum memberikan kepastian yang diharapkan. Proses administrasi yang berbelit menambah beban emosional keluarga yang tengah berduka.
Kiki hanya memiliki satu harapan: memulangkan jenazah suaminya ke tanah air agar dimakamkan secara layak.
Baca Juga: DPRD Sumut Desak Satgas Pangan Ungkap Kelangkaan dan Mahalnya Minyakita
“Saya ingin suami saya pulang. Supaya kami tahu di mana kuburnya,” katanya pelan.
Perjalanan pulang jenazah dari luar negeri bukan perkara mudah. Selain proses yang panjang, biaya yang dibutuhkan pun sangat besar—terlebih bagi pekerja migran yang berangkat secara ilegal tanpa perlindungan resmi.(ted/han)
Editor : Johan Panjaitan