Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Hasyim Berharap Proyek BRT Jangan Sampai Berakhir Gagal

Juli Rambe • Rabu, 10 Juni 2026 | 22:00 WIB
Anggota DPRD Sumut, Hasyim.(Dok : Hasyim)
Anggota DPRD Sumut, Hasyim.(Dok : Hasyim)

 

MEDAN, SUMUT POS-  Anggota Komisi D DPRD Sumatera Utara yang juga Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut I, Hasyim, memberikan perhatian khusus terhadap proyek BRT.

Ia menilai pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan yang saat ini sedang berlangsung benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan tidak hanya menjadi proyek besar yang menghabiskan anggaran negara.

Menurut Hasyim, proyek BRT merupakan program nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Perhubungan dan pembiayaannya berasal dari APBN. 

Baca Juga: Jalan Provinsi di Medan Jadi Prioritas Pembangunan Tahun Ini, Ini Ruas Jalannya

"Ini proyek nasional dari Kementerian Perhubungan dan sumber anggarannya dari APBN. Jadi memang bukan anggaran pemerintah provinsi maupun pemerintah kota. Karena itu, pemerintah harus memastikan hasil dari pembangunan ini benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," kata Hasyim saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Rabu (10/6/2026).

Di sisi lain, ia mengakui bahwa selama proses pembangunan berlangsung, masyarakat harus menghadapi berbagai konsekuensi, terutama meningkatnya kemacetan di sejumlah ruas jalan. Salah satu kawasan yang menurutnya paling terdampak adalah Jalan Gatot Subroto.

"Kalau kita lihat sekarang, masyarakat sudah merasakan dampaknya. Jalan Gatot Subroto yang sebelumnya cukup lebar dan lalu lintasnya lancar, sekarang mengalami kemacetan. Ini tentu menjadi pengorbanan yang harus ditanggung masyarakat selama proyek berjalan," ujarnya.

Tidak hanya persoalan lalu lintas, Hasyim juga menyoroti dampak lingkungan yang muncul akibat penebangan sejumlah pohon penghijauan di median jalan. Ia menyayangkan banyaknya pohon yang selama ini berfungsi sebagai peneduh sekaligus mempercantik wajah kota harus ditebang demi mendukung pembangunan infrastruktur.

"Kita juga melihat banyak pohon penghijauan di tengah jalan yang digunduli. Padahal pohon-pohon itu bukan hanya memperindah kota, tetapi juga menjadi sumber oksigen bagi masyarakat. Karena itu, penghijauan kembali harus segera dilakukan agar lingkungan tetap terjaga," katanya.

Meski mendukung upaya pemerintah meningkatkan kualitas transportasi publik, Politisi PDI Perjuangan itu mengaku masih memiliki keraguan apakah BRT nantinya benar-benar mampu menjadi solusi dalam mengurangi kemacetan di Kota Medan.

Keraguan tersebut, kata dia, didasarkan pada pengalaman sebelumnya, di mana keberadaan layanan bus yang sudah ada belum mampu secara signifikan mengubah pola mobilitas masyarakat maupun mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan.

Menurutnya, masyarakat Kota Medan selama ini cenderung memilih moda transportasi yang dianggap lebih praktis dan efisien. Apabila pengguna BRT masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan ojek atau taksi daring setelah turun dari halte, maka hal tersebut justru menambah biaya dan waktu tempuh.

"Persoalannya adalah aksesibilitas. Misalnya seseorang naik BRT dari rumah, tetapi setelah turun dari halte masih harus naik ojek lagi untuk sampai ke tempat kerja. Berarti ada tambahan biaya dan tambahan waktu. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat tentu akan berpikir lebih baik naik ojek langsung dari rumah ke tujuan karena dianggap lebih praktis dan lebih efisien," jelasnya.

Ia menilai pola pikir masyarakat yang mengutamakan kecepatan dan efisiensi menjadi tantangan besar bagi keberhasilan sistem transportasi massal di Medan. Karena itu, pemerintah harus memikirkan integrasi antarmoda sehingga masyarakat tidak merasa direpotkan ketika menggunakan BRT.

"Jangan sampai proyek besar ini nantinya malah tidak memberikan manfaat yang signifikan. Masyarakat sudah berkorban selama proses pembangunan berlangsung dan anggaran yang digunakan juga sangat besar. Karena itu hasilnya harus benar-benar maksimal," tegasnya.

Selain fokus pada pembangunan fisik, Hasyim juga mengingatkan pentingnya aspek operasional dan pemeliharaan setelah proyek selesai. 

Ia menambahkan bahwa keberhasilan suatu sistem transportasi tidak hanya diukur dari berdirinya infrastruktur maupun jumlah armada yang tersedia, tetapi juga dari tingkat kenyamanan, keamanan, kepastian waktu, serta kemudahan akses bagi masyarakat. (san/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#pembangunan BRT #drpd sumut #Hasyim