MEDAN, SUMUT POS- Penyelenggaraan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026 dipastikan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Seluruh pelaksanaan pesta rakyat terbesar di Sumatera Utara itu dibiayai melalui skema kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk event organizer (EO) yang ditunjuk sebagai penyelenggara.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (PPSU), Ferry Indra, menanggapi berbagai sorotan masyarakat terkait harga tiket masuk PRSU yang dinilai masih cukup mahal.
Baca Juga: Hari Koperasi ke-79, MAI Medan Minta Bulog Responsif Terhadap Arahan Presiden Prabowo
Menurut Ferry, masyarakat berhak menyampaikan kritik maupun masukan terhadap penyelenggaraan PRSU. Namun di sisi lain, ia meminta publik juga memahami bahwa pelaksanaan PRSU tahun ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya karena tidak menggunakan dana APBD.
"Kita terima saran dan kritiknya, tapi untuk sekarang karena ini event non-APBD juga, kita juga kolaborasi dengan semua pihak," kata Ferry dalam keterangannya, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, konsep pembiayaan tersebut membuat penyelenggara harus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak agar pelaksanaan PRSU tetap berjalan sekaligus mampu menghadirkan kualitas acara yang lebih baik.
Karena itu, menurut Ferry, berbagai kebijakan yang diterapkan selama penyelenggaraan, termasuk penetapan harga tiket masuk, tidak bisa dilepaskan dari skema pembiayaan yang telah disusun bersama seluruh mitra penyelenggara.
Meski demikian, Ferry mengaku pihaknya tidak menutup mata terhadap kritik yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu yang paling banyak menjadi perhatian adalah tarif tiket masuk PRSU yang dinilai masih cukup tinggi.
"Jadi terkait tiket yang dibilang mahal, itu masukan ke kami juga. Namun kembali lagi kami mencoba untuk menyuguhkan event yang baik. PRSU kali ini juga kami memberi ruang banyak komunitas yang tampil," ujarnya.
Saat ini, tiket masuk PRSU ke-50 dipatok sebesar Rp35 ribu untuk hari Senin hingga Kamis, sedangkan pada akhir pekan diberlakukan tarif Rp75 ribu.
Ferry mengatakan, transformasi penyelenggaraan PRSU memang sedang dilakukan agar kegiatan tahunan tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga berkembang menjadi pameran dan promosi potensi daerah yang memiliki daya tarik lebih besar.
"Ya memang saat ini kita sedang mencoba transformasikan PRSU yang selama ini dijalankan dan yang saat ini kita jalankan. Memang pro kontra ada, baik itu harga tiket, pengisi acara, tapi kita ambil positifnya," katanya.
Selain pembiayaan dan harga tiket, Ferry juga menjelaskan pengelolaan parkir selama penyelenggaraan PRSU. Menurutnya, area parkir di dalam kawasan PRSU dikelola oleh panitia, sedangkan area di luar lokasi tetap melibatkan masyarakat sekitar dengan koordinasi bersama Dinas Perhubungan dan Satpol PP.
"Terkait parkiran kita juga kelola sendiri, tapi hanya yang di bagian dalam saja. Yang di luar kita serahkan ke masyarakat, namun tetap koordinasi dengan Dishub, Satpol PP. Kami juga sudah sampaikan supaya tarif parkirnya jangan berlebihan," ujarnya.
Ia berharap masyarakat dapat melihat upaya transformasi yang sedang dilakukan penyelenggara. Menurutnya, setelah sempat vakum selama dua tahun, PRSU membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar ke depan mampu berkembang menjadi agenda pameran berskala lebih besar.
"PRSU ini juga kan sudah dua tahun vakum, jadi pasti ada plus minusnya. Jadi kami harapkan masyarakat juga bisa memberi dukungan, karena ke depan ini bukan hanya sekadar event hiburan tapi bisa menjadi tren expo," tutur Ferry.
Terkait kemungkinan penurunan harga tiket, Ferry mengaku hingga kini belum ada rencana untuk melakukan perubahan tarif karena kebijakan tersebut telah menjadi bagian dari kerja sama dengan pihak event organizer. Namun, ia membuka peluang adanya program-program khusus yang dapat meringankan beban masyarakat selama penyelenggaraan berlangsung.
"Kalau penurunan harga, karena kita kan sudah serahkan ke EO, hingga saat ini belum ada rencana. Tapi ini kan masih panjang penyelenggaraannya, nantikan saja. Intinya kami tidak hanya mencari keuntungan. Enggak. Tapi kita berpikir gimana caranya menunjukkan bahwa Sumatera Utara ini keren," katanya. (san/ram)
Editor : Juli Rambe