150 Hektare Lahan Terancam, Debit Sungai Gambus Kini Turun 20-30 Persen

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:17 WIB
Kepala Bidang Perencanaan PSDA Provinsi Sumut Ihsanul Fatta dan Kepala UPTD PSDA Bah Bolon, Syahrial  Efendi bersama Ketua DPRD Batubara M Safii, Ketua Komisi IV DPRD Batubara Sarianto Damanik dan Wakil Ketua Ismar Komri saat meninjau Dam Sumanggar-Dam Sidalu Dalu, di desa Tanah Rendah, Kec. Air Putih batubara, Rabu(12/8/2026). (foto. Liberti H Haloho/Sumut Pos)
Kepala Bidang Perencanaan PSDA Provinsi Sumut Ihsanul Fatta dan Kepala UPTD PSDA Bah Bolon, Syahrial Efendi bersama Ketua DPRD Batubara M Safii, Ketua Komisi IV DPRD Batubara Sarianto Damanik dan Wakil Ketua Ismar Komri saat meninjau Dam Sumanggar-Dam Sidalu Dalu, di desa Tanah Rendah, Kec. Air Putih batubara, Rabu(12/8/2026). (foto. Liberti H Haloho/Sumut Pos)

 

BATU BARA, Sumutpos.jawapos.com — Penanganan dampak proyek di sekitar Dam Sumanggar-Dam Sidalu Dalu mulai menunjukkan perkembangan. Debit air di hilir Sungai Gambus Laut dilaporkan turun sekitar 20 hingga 30 persen setelah dilakukan rekayasa aliran air.

Perkembangan tersebut terungkap saat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui PSDA Sumut bersama UPTD PSDA Bah Bolon, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Utara, DPRD Batu Bara, PT Inalum, rekanan, konsultan proyek, serta masyarakat terdampak meninjau langsung kawasan Dam Sumanggar-Dam Sidalu Dalu di Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, Rabu (12/8/2026).

Peninjauan dilakukan untuk memastikan tindak lanjut atas kesepakatan rapat sebelumnya di kantor PSDA Sumut, Medan, khususnya terkait penanganan dampak proyek terhadap aliran air di hilir Sungai Gambus.

Baca Juga: Bantah Eksepsi Rida, JPU Minta Hakim Lanjut ke Tahap Pembuktian

Persoalan muncul setelah pengalihan debit air akibat pengerjaan proyek berdampak terhadap kawasan hilir. Sekitar 150 hektare areal pertanian di Desa Gambus Laut, yang di antaranya ditanami padi dan cabai, sempat terendam dan terancam mengalami gagal panen.

Merespons kondisi tersebut, PSDA Sumut menginstruksikan tiga langkah penanganan darurat, yakni normalisasi, rekayasa aliran air, serta pemasangan sheet pile atau sandbag pada titik-titik tertentu. Langkah itu ditujukan untuk mengendalikan sekaligus mengarahkan aliran air agar genangan lebih cepat surut dan tidak kembali meluas ke lahan pertanian maupun permukiman warga.

Dalam peninjauan tersebut, hadir Kepala Bidang Perencanaan PSDA Provinsi Sumut Ihsanul Fatta, Kepala UPTD PSDA Bah Bolon Syahrial Efendi beserta jajaran Dinas Pengairan PU Provinsi UPT Batu Bara yang dipimpin Sadikin Sumarno.

Dari DPRD Batu Bara hadir Ketua DPRD M. Safii, Wakil Ketua Tengku Rodial, Ketua Komisi IV Sarianto Damanik, Wakil Ketua Komisi IV Ismar Komri, serta sejumlah anggota Komisi IV.

Turut hadir Kepala Dinas PUTR Batu Bara Budi Sinaga, kelompok tani Gambus Laut, aparatur Desa Gambus Laut dan Desa Kuala Indah, perwakilan PT Inalum, rekanan, serta konsultan proyek Dam Sidalu Dalu.

Debit Air Mulai Turun

Ketua Komisi IV DPRD Batu Bara Sarianto Damanik mengatakan hasil peninjauan menunjukkan adanya perkembangan positif dalam penanganan persoalan genangan.

Menurutnya, instruksi Kepala UPTD PSDA Bah Bolon kepada rekanan dan konsultan proyek untuk melakukan langkah konkret di lapangan telah berjalan.

Baca Juga: Inggris Ajarkan Hormati Perempuan Sejak Sekolah

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Batu Bara Ismar Komri. Ia menyebut normalisasi dan rekayasa aliran air, termasuk pemasangan sheet pile maupun sandbag di sejumlah titik, mulai memberikan hasil.

“ Tindakan nyata berupa normalisasi dan rekayasa aliran air, termasuk pemasangan sheet pile atau sandbag pada titik yang diperlukan untuk mengendalikan dan mengarahkan aliran air telah dilakukan. Namun, tetap dimonitor perkembangannya,” ujar Ismar.

Berdasarkan pantauan PSDA Sumut, kata Ismar, debit air di hilir Sungai Gambus Laut telah berkurang sekitar 20 hingga 30 persen setelah dilakukan rekayasa aliran.

“Ya, kondisi hari ini seperti pantauan PSDA Sumut, dengan rekayasa aliran air sudah mulai terjadi penurunan debit air di hilir Sungai Gambus Laut sekitar 20-30 persen. Ini tahap awal. Mudah-mudahan kondisi ini tetap demikian dan terus dipantau perkembangannya,” katanya.

Meski demikian, Ismar mengingatkan agar perkembangan tersebut tidak membuat seluruh pihak lengah. Penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama karena proyek masih berjalan dan kondisi cuaca berpotensi memasuki periode hujan.

Jangan Sampai Proyek Melahirkan Masalah Baru

Ismar menegaskan pembangunan Dam Sidalu Dalu harus tetap memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat. Setiap tahapan pekerjaan, menurutnya, perlu didasarkan pada kajian yang komprehensif dan mempertimbangkan aspirasi DPRD, petani Gambus Laut, maupun masyarakat Desa Kuala Indah.

Ia meminta seluruh masukan tersebut menjadi perhatian serius rekanan dan konsultan agar pengerjaan proyek tidak justru memunculkan persoalan baru di lapangan.

Baca Juga: Dana Pelatnas Asian Games 2026 Jadi Rp222 Miiar, Target Emas 4

“Jangan sampai penyelesaian satu persoalan justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat,” tegasnya.

Ismar juga meminta Pemkab Batu Bara bersama DPRD terus mengawal kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Pengawasan dinilai penting untuk memastikan langkah penanganan tidak berhenti pada tahap awal, tetapi benar-benar memberikan perlindungan terhadap lahan pertanian dan permukiman warga.

Dengan masa kerja proyek mencapai 180 hari, Ismar mendorong pengerjaan dimaksimalkan. Apalagi, kondisi saat ini semakin mendekati musim hujan yang dapat meningkatkan risiko genangan apabila sistem aliran air belum sepenuhnya terkendali.

“Kalau boleh, dikerjakan maksimal siang dan malam, dibantu penerangan dalam pengerjaannya,” tegas Ismar, yang juga Ketua Fraksi Karya Pembangunan Nasional (KPN) DPRD Batu Bara.

Ia mengapresiasi langkah PSDA Sumut, UPTD PSDA Bah Bolon, rekanan, konsultan, pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang telah bergerak menangani dampak pengalihan aliran air.

Menurutnya, persoalan di sekitar Dam Sumanggar-Dam Sidalu Dalu membutuhkan koordinasi dan pengawasan lintas pihak. Penurunan debit air sebesar 20 hingga 30 persen menjadi sinyal awal yang positif, tetapi belum dapat dianggap sebagai akhir persoalan.

Sarianto Damanik kembali menegaskan bahwa tiga langkah darurat yang telah dijalankan harus terus dievaluasi. Penanganan harus diarahkan untuk memastikan genangan yang sebelumnya berdampak terhadap sekitar 150 hektare lahan pertanian benar-benar dapat dikendalikan.

“Ya, kondisi hari ini seperti pantauan PSDA Sumut, dengan rekayasa aliran air telah terjadi penurunan debit air di hilir Sungai Gambus Laut sekitar 20-30 persen. Ini tahap awal. Tentunya, kondisi ini tetap dimonitor perkembangannya,” pungkasnya. (lib/han)

Editor : Johan Panjaitan
dprd batu bara psda sumut sungai gambus areal pertanian debit air