Nias Selatan, Nias Barat dan Langkat Banjir, Pakpak Bharat Alami Longsor

Juli Rambe • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:10 WIB
BENCANA: Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa hari terakhir memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah kabupaten.(Dok : BPBD Sumut)
BENCANA: Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa hari terakhir memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah kabupaten.(Dok : BPBD Sumut)

 

MEDAN, SUMUT POS- Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa hari terakhir memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah kabupaten.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara per Senin (7/9/2026) pukul 08.00 WIB, sedikitnya tiga kabupaten dilanda banjir, sementara satu daerah lainnya mengalami tanah longsor.

Kepala BPBD Sumatera Utara Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan, bencana tersebut terjadi di Kabupaten Nias Selatan, Nias Barat dan Langkat. Sementara tanah longsor terjadi di Kabupaten Pakpak Bharat.

Baca Juga: Wartawan Dituntut Tetap Kritis dan Verifikatif di Tengah Gempuran AI

“Berdasarkan update laporan kejadian yang kami terima, ada beberapa wilayah di Sumatera Utara yang mengalami bencana akibat tingginya intensitas curah hujan,” ujar Tuahta saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Senin (7/9/2026).

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD karena sebagian wilayah Sumut saat ini memasuki periode musim penghujan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir, longsor maupun di sekitar aliran sungai.

“Kami terus melakukan koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana, mengingat kondisi cuaca saat ini masih cukup berisiko,” katanya.

Berdasarkan laporan BPBD Sumut, bencana tanah longsor terjadi di Kecamatan Kerajaan, Desa Pardomuan, Kabupaten Pakpak Bharat, pada Minggu (6/9/2026).

Longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sejak sekitar pukul 18.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB. Material longsor sempat mengganggu akses pengguna jalan, baik kendaraan roda empat maupun roda dua.

Tidak terdapat korban jiwa, luka-luka maupun pengungsi dalam peristiwa tersebut.

BPBD Kabupaten Pakpak Bharat langsung melakukan asesmen dan survei ke lokasi. Penanganan dilakukan dengan menggunakan alat berat berupa backhoe loader milik BPBD untuk membersihkan material longsor yang menutup akses jalan.

“Untuk kejadian tanah longsor di Pakpak Bharat, penanganan sudah dilakukan dan jalan sudah kembali normal,” kata Tuahta.

Meski akses jalan telah kembali normal, BPBD tetap meminta masyarakat berhati-hati karena hujan masih berpotensi terjadi.

Kabupaten yang Alami Banjir

Sementara itu, banjir juga melanda Kabupaten Nias Selatan. Banjir terjadi pada Sabtu (5/9/2026) akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan Sungai Sea di Kecamatan Hilisalawa'ahe meluap.

Banjir tersebut berdampak terhadap infrastruktur dan akses masyarakat. Satu jembatan penyeberangan dilaporkan rusak akibat diterjang banjir. Selain itu, akses jalan masyarakat ikut terputus dan terjadi perubahan bentuk aliran sungai.

“Di Nias Selatan, banjir memang sudah surut. Namun, dampaknya masih terlihat karena jembatan penyeberangan mengalami kerusakan,” jelas Tuahta.

Ia mengatakan, tidak ada laporan korban meninggal dunia, luka-luka maupun warga yang mengungsi akibat banjir tersebut.

BPBD Kabupaten Nias Selatan telah melakukan asesmen dan survei ke lokasi kejadian. Pemantauan juga dilakukan dengan mengakses informasi cuaca dan kebencanaan dari BMKG, BNPB serta melalui jaringan komunikasi Pusdalops BPBD Kabupaten Nias Selatan.

“BPBD Sumut terus berkoordinasi dengan BPBD Nias Selatan untuk melihat kondisi di lapangan dan memastikan penanganan terhadap dampak banjir dapat dilakukan,” katanya.

Selain Nias Selatan, banjir juga terjadi di Kabupaten Nias Barat pada Minggu (6/9/2026).

Banjir melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Lahomi, Mandrehe, Mandrehe Barat dan Sirombu. Tingginya intensitas hujan menyebabkan debit Sungai Lahomi dan Sungai Moro'o meningkat hingga meluap ke sejumlah wilayah.

Akibat banjir tersebut, beberapa rumah warga terendam. Selain permukiman, lahan persawahan dan irigasi pertanian masyarakat juga terdampak. Banjir turut menyebabkan kerusakan pada sejumlah akses jalan yang biasa digunakan masyarakat.

“Untuk Nias Barat, beberapa kecamatan terdampak banjir karena debit sungai meningkat dan meluap akibat hujan dengan intensitas tinggi,” ungkap Tuahta.

Menurutnya, hingga laporan diterima BPBD Sumut, belum terdapat laporan korban meninggal dunia, luka-luka maupun pengungsian di wilayah Nias Barat.

“Tidak ada korban jiwa maupun laporan pengungsi. Namun, masyarakat tetap harus waspada karena BPBD masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan,” ujarnya.

BPBD Kabupaten Nias Barat bersama pihak terkait telah melakukan asesmen dan survei ke lokasi terdampak. Tim juga berkoordinasi dengan masyarakat serta berbagai unsur untuk melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD kabupaten. Perkembangan kondisi akan terus dipantau dan informasi disampaikan kepada masyarakat,” kata Tuahta.

Sementara banjir dengan dampak cukup signifikan terjadi di Kabupaten Langkat, tepatnya di Kecamatan Besitang, Desa Sekoci.

Banjir mulai terjadi pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 00.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung secara terus-menerus di sekitar Desa Sekoci dan wilayah hulu menyebabkan debit air meningkat dan meluap hingga masuk ke permukiman warga.

Setidaknya empat dusun terdampak banjir, yakni Dusun Sidodadi, Dusun P. Pulo, Dusun Seijambu dan Dusun 1 Sekoci.

Di Dusun Sidodadi, sekitar 91 kepala keluarga terdampak dengan ketinggian air berkisar 30 hingga 60 sentimeter. Kemudian di Dusun P. Pulo terdapat sekitar 60 kepala keluarga dengan ketinggian air 15 hingga 40 sentimeter.

Selanjutnya, di Dusun Seijambu sekitar 67 kepala keluarga terdampak dengan ketinggian air 10 hingga 30 sentimeter. Sedangkan di Dusun 1 Sekoci, sekitar 10 kepala keluarga terdampak dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 70 sentimeter.

Banjir menyebabkan rumah dan permukiman warga tergenang. Aktivitas masyarakat juga ikut terganggu.

“Untuk di Langkat, khususnya Desa Sekoci, dampaknya cukup terasa. Ada beberapa dusun yang terdampak dengan ketinggian air yang bervariasi,” ujar Tuahta.

Ia menyebutkan, berdasarkan laporan yang diterima, terdapat 20 warga yang mengungsi. Namun, sebagian besar masyarakat masih memilih bertahan di rumah masing-masing.

“Untuk sementara ada 20 orang yang mengungsi. Namun masyarakat lainnya masih bertahan di rumah masing-masing dan belum dilakukan evakuasi massal,” katanya.

BPBD Kabupaten Langkat telah melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, Kecamatan Besitang, kepolisian, TNI dan puskesmas untuk memastikan kesiapan penanganan apabila kondisi banjir memburuk.

Tim BPBD juga diturunkan langsung ke lokasi untuk melakukan pemantauan, pendataan serta mengukur ketinggian air secara berkala.

Selain itu, sejumlah personel dan sarana prasarana penanganan bencana telah disiapkan, termasuk perahu karet, mobil tangki air dan perlengkapan darurat lainnya.

“Tim BPBD sudah turun ke lokasi untuk melakukan pemantauan dan pendataan. Sarana dan prasarana juga disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila kondisi memburuk dan masyarakat harus dievakuasi,” ungkap Tuahta.

Ia mengatakan, perkembangan kondisi banjir di Desa Sekoci terus dipantau oleh petugas di lapangan.

Berdasarkan pemantauan pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 16.14 WIB, ketinggian air mulai mengalami penurunan sekitar lima sentimeter.

“Kondisi terakhir yang kami terima, ketinggian air sudah mulai surut sekitar lima sentimeter,” kata Tuahta.

Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Sebab, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi menyebabkan debit air kembali meningkat.

“Kami tetap meminta masyarakat untuk waspada. Kalau hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, kondisi air bisa berubah. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti arahan petugas di lapangan,” ujarnya.

Tuahta menegaskan, BPBD Sumut akan terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten yang wilayahnya terdampak bencana.

“BPBD Sumatera Utara terus melakukan koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota. Kami memantau perkembangan setiap kejadian dan memastikan langkah penanganan dilakukan sesuai kondisi di lapangan,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan bencana agar segera melaporkan apabila melihat adanya tanda-tanda banjir, longsor maupun kondisi lain yang berpotensi membahayakan keselamatan.

“Yang paling penting adalah masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dalam waktu lama. Jika ada kondisi yang membahayakan, segera laporkan kepada aparat atau petugas BPBD setempat,” pungkas Tuahta.(san/ram)

Editor : Juli Rambe
intensitas hujan di sumut banjir di sumut