BINJAI, Sumutpos.jawapos.com – Upaya menekan angka stunting di Kota Binjai terus digenjot. Dinas Kesehatan (Dinkes) Binjai kini menyiapkan strategi baru melalui Program SatSetSip atau Satu Anak Stunting, Semakin Sehat, Satu Ibu/Bapak Pendamping.
Program tersebut dirancang untuk memperkuat pendampingan anak stunting secara lebih terarah, sekaligus memastikan setiap intervensi kesehatan dan pemenuhan gizi benar-benar menyentuh sasaran.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Dinkes Binjai mempercepat penurunan stunting, setelah mengikuti rapat koordinasi percepatan penurunan stunting regional Sumatera yang digelar Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia.
Percepatan penurunan stunting sendiri merupakan amanah Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021.
Baca Juga: KUR BNI Pematangsiantar Dorong Industri Mesin Kopi Lokal Naik Kelas
Plt Kepala Dinkes Binjai, Desman, turut mengikuti langsung rapat koordinasi tersebut. Sepulang dari kegiatan, Desman langsung menggelar rapat bersama bidang terkait untuk membahas langkah konkret yang dapat dilakukan di Kota Binjai.
Dari pembahasan tersebut, lahirlah Program SatSetSip.
Desman mengatakan, program itu tidak terlepas dari bimbingan dan arahan Wali Kota Binjai Amir Hamzah bersama Wakil Wali Kota Hasanul Jihadi.
"Program ini untuk memperkuat upaya percepatan penurunan stunting menuju Binjai zero stunting," ujar Desman, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, SatSetSip akan dijalankan melalui sejumlah tahapan yang saling berkaitan. Anak stunting akan mendapatkan pendampingan serta pemeriksaan kesehatan secara berkala yang melibatkan dokter spesialis anak dan tenaga kesehatan.
Intervensi kemudian dilanjutkan dengan pemberian susu tinggi protein dan vitamin selama tiga hingga lima bulan.
Tak berhenti pada pemenuhan gizi, Dinkes Binjai juga memastikan aspek perlindungan kesehatan anak terpenuhi. Setiap anak sasaran akan dipastikan memiliki BPJS Kesehatan atau tercatat sebagai peserta UHC Prioritas Kota Binjai.
Baca Juga: Ragam Makanan Ini Baik bagi Kesehatan Otak, Jangan Biarkan Mubazir
Selain itu, anak juga diarahkan menjadi penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Tahapan selanjutnya, juga memastikan anak memiliki BPJS Kesehatan atau tercatat sebagai peserta UHC Prioritas Kota Binjai. Dan memastikan anak sebagai penerima manfaat program makan bergizi gratis," sambung Desman.
Pada tahap berikutnya, anak stunting akan menjadi sasaran prioritas penerima makanan tambahan atau kudapan lokal. Intervensi tersebut juga disertai imunisasi dan berbagai program kesehatan anak lainnya.
Desman menegaskan, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar seluruh intervensi berjalan efektif dan tepat sasaran.
"Penanganan stunting juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, dengan didukung penguatan kualitas data sasaran dan intervensi yang tepat, agar program benar-benar menjangkau masyarakat," tegasnya.
Baca Juga: Mengintip Gaya Arsitektur Klasik yang Kini Kembali Tren, Populer Akhir Abad 19 dan Awal Abad 20
Komitmen tersebut sejalan dengan tren penurunan angka stunting di Kota Binjai. Data Dinkes menunjukkan, jumlah anak stunting pada 2024 tercatat sebanyak 56 jiwa.
Angka itu turun menjadi 40 jiwa pada 2025. Sementara hingga 2026, jumlahnya kembali ditekan menjadi 36 jiwa.
Dinkes Binjai kini membidik target yang lebih agresif. Hingga Desember 2026, jumlah anak stunting ditargetkan kembali turun menjadi 18 jiwa.
"Tahun 2024 ada 56 jiwa anak, lalu di tahun 2025 turun menjadi 40 jiwa anak, kini menyisakan 36 jiwa anak dan target sampai Desember 2026 menjadi 18 jiwa anak," pungkas Desman.
Percepatan penurunan stunting menjadi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, upaya tersebut membutuhkan konsistensi dan kesinambungan, mulai dari pemenuhan gizi, peningkatan kesehatan ibu dan anak, penguatan ketahanan keluarga, hingga perbaikan sanitasi dan lingkungan.
Baca Juga: Jangan Asal Makan Malam! 5 Makanan Ini Diam-Diam Bisa Bikin Tidur Terganggu
Melalui SatSetSip, Dinkes Binjai berupaya memastikan penanganan tidak berhenti pada pendataan. Setiap anak stunting diharapkan mendapat pendampingan, intervensi gizi, akses layanan kesehatan, hingga perlindungan sosial secara terpadu.
Targetnya jelas: angka stunting terus ditekan dan Binjai semakin dekat menuju zero stunting. (ted/han)
Editor : Johan Panjaitan