SUMUT POS- Kondisi ekonomi saat ini sedang memasuki 'hati- hati'. Selain karena adanya perang antara Iran melawan Amerika dan Israel, yang membuat dollar juga mulai naik dari rupiah.
Tapi banyak yang mempertanyakan ekonomi sulit kok mal dan kafe mahal masih ramai?
Ada apa sebenarnya?
Baca Juga: Ini Kondisi Terbaru Alex Marquez Pasca Kecelakaan di Catalunya
Dalam dunia sosial, ini disebut 'lipstick effect' yang pernah muncul saat Amerika Serikat mengalami resesi.
Menurut penjelasan dari cuitan akun X @TwipsX, istilah lipstick effect sendiri pertama kali populer setelah diamati oleh perusahaan kosmetik Estée Lauder saat Amerika Serikat mengalami resesi pada 2001 pasca tragedi 9/11.
“Kalian ngerasa nggak sih, mall masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun tersebut.
Kala itu, penjualan barang mewah besar seperti mobil atau produk premium mengalami penurunan. Namun di sisi lain, produk-produk kecil seperti lipstik dan kosmetik, justru mengalami kenaikan penjualan.
Fenomena ini kemudian digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat saat kondisi ekonomi sulit. Masyarakat memang tidak membeli barang mahal atau pengeluaran besar, tapi masih membeli hiburan kecil yang dianggap masih terjangkau. Fenomena itu pun yang saat ini terjadi di Indonesia. “Orang nggak beli mobil baru, tapi beli kopi Rp80 ribu. Orang nggak liburan ke Jepang, tapi staycation di hotel bintang tiga,” tulis akun itu.
Masyarakat Indonesia tampak masih ramai menikmati staycation, nongkrong di cafe, membeli gadget hingga skincare. Adapun perilaku ini dinilai sebagai 'pelarian' di tengah tekanan ekonomi.
Menurut unggahan tersebut, ramainya mall atau coffee shop belum tentu menjadi indikator ekonomi sedang baik-baik saja. Namun semata-mata karena masyarakat mencari pelarian dari beratnya kenyataan.
So, menurut kamu, bagaimana ekonomi saat ini? (bbs/ram)
Editor : Juli Rambe