sumutpos.jawapos.com – Pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat.
Namun, di balik tingginya penggunaan internet, masih terdapat persoalan serius yakni rendahnya literasi digital yang membuat masyarakat rentan terhadap hoaks hingga penipuan daring.
Melansir Instagram @lambegosiip, Kamis (19/2/2026), peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Nadia Fairuza, mengungkapkan tingginya penetrasi internet di Indonesia belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan literasi digital masyarakat.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat mudah terpapar berbagai informasi menyesatkan yang beredar di dunia maya. Selain itu, rendahnya literasi digital juga meningkatkan risiko masyarakat terlibat dalam perundungan siber hingga menjadi target kejahatan digital.
“Faktanya, masyarakat Indonesia cukup rawan terpapar hoaks dan misinformasi, terlibat dalam perundungan siber, serta menjadi target penipuan di dunia maya,” ujarnya.
Nadia menjelaskan, literasi digital sangat erat kaitannya dengan kemampuan literasi dasar, khususnya membaca dan menulis. Kemampuan tersebut mencakup keterampilan memahami, mencari, menganalisis, mengolah, hingga menyebarluaskan informasi berbasis teks.
Sayangnya, tingkat literasi baca tulis masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang benar dan terpercaya, terutama di era banjir informasi seperti saat ini.
Kurangnya kemampuan menyaring informasi membuat masyarakat mudah percaya pada konten yang belum tentu benar. Hal ini semakin diperparah dengan cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial dan platform digital lainnya.
Para ahli menilai peningkatan literasi digital harus menjadi perhatian bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga lembaga pendidikan, keluarga, serta masyarakat perlu berperan aktif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan memahami informasi digital secara bijak.
Dengan literasi digital yang baik, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara positif sekaligus terhindar dari dampak negatif seperti hoaks, penipuan daring, hingga konflik sosial akibat kesalahpahaman informasi. (lin)
Editor : Redaksi