Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Banyak Turis dan Warga Salah Kaprah, Thailand Tutup Ribuan Bisnis Ganja

Redaksi • Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi, suasana di salah toko yang bergerak di bidang bisnis ganja di Thailand. (ig@thaicannabis.diapensary)
Ilustrasi, suasana di salah toko yang bergerak di bidang bisnis ganja di Thailand. (ig@thaicannabis.diapensary)

sumutpos.jawapos.com - Langkah Pemerintah Thailand melegalkan ganja ternyata jadi bumerang, banyak yang salah kaprah dengan bisnis itu.

Ganja di Thailand yang diplot untuk dunia medis, malah lebih marak di dunia bisnis, tepatnya untuk urusan rekreasi.

Tak pelak, melansir The Nation Thailand, Jumat (9/1/2026), pemerintah Thailand pun akhirnya menperketat regulasi soal bisnis ganja di sana.

Dengan kata lain, jika sebelumnya bisnis ganja di Thailand sangat bebas untuk digunakan secara rekreasional, sekarang ganja hanya boleh digunakan untuk keperluan medis.

Sebagai informasi, menurut data resmi, per 28 Desember 2025 tercatat ada 18.433 bisnis ganja yang beroperasi secara nasional di sana.

Sementara itu, pada 2025 ada 8636 lisensi toko ganja yang berakhir. Namun, hanya ada 1.339 toko atau sekitar 15,5 persen yang bisa memperbarui lisensi dan lanjut beroperasi lagi.

Artinya, sebanyak 7.297 toko tidak mendapat pembaruan dan menyerah.

Kementerian Kesehatan melaporkan, ke depannya ada 4.587 toko yang lisensinya berakhir di tahun 2026 dan 5.210 menyusul pada tahun 2027

"Bisnis terkait ganja harus beradaptasi, dan operator perlu mempertimbangkan prosesnya," ujar Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Pattana Promphat.

Pemerintah menilai selama ini regulasi ganja di Thailand telah salah kaprah hingga berupaya untuk mengembalikan ganja ke fungsinya sebagai obat.

Di bawah peraturan baru, kata Pattana, penjual ganja haruslah toko atau fasilitas yang memang ditunjuk secara hukum.

Resep harus diberikan oleh dokter yang berwenang dan bertanggung jawab.

Selain itu, yang boleh mengonsumsi hanya pasien yang diidentifikasi membutuhkan ganja untuk pengobatan.

Selama masa transisi, toko yang masih punya lisensi masih bisa beroperasi sampai masa berlakunya berakhir.

Namun, ketika izinnya habis, mereka tidak bisa memperpanjang kecuali mengubah tokonya menjadi fasilitas medis dan mengikuti aturan baru yang berlaku.

"Pasien yang menggunakan ganja untuk pengobatan tentu tidak akan menghadapi kelangkaan," ujar Pattana.(lin)

Editor : Redaksi
#thailand #Berita dunia #regulasi ganja