sumutpos.jawapos.com - Selama bertahun-tahun, masyarakat kerap menganggap bahwa pria harus selalu terlihat kuat dan mampu menahan emosi. Tangisan sering dikaitkan dengan kelemahan, sehingga banyak pria merasa perlu menyembunyikan air mata, bahkan ketika menghadapi situasi berat seperti kehilangan, kegagalan, atau patah hati.
Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada situasi tertentu ketika pria justru merasa lebih bebas untuk menangis, yaitu dalam konteks olahraga kompetitif.
Melansir Instagram @pandemictalks, Kamis (16/7/2026), riset yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2019 oleh peneliti Heather J. MacArthur menemukan bahwa pria cenderung merasa lebih aman menunjukkan emosi ketika tangisan tersebut muncul dalam lingkungan yang dianggap selaras dengan nilai maskulinitas, seperti dunia olahraga atau pekerjaan yang identik dengan kekuatan dan kompetisi.
Dalam eksperimen pertama, peserta penelitian diminta menilai pria yang menangis dalam berbagai konteks pekerjaan. Hasilnya menunjukkan bahwa pria yang menangis di pekerjaan dengan citra maskulin dinilai lebih dapat diterima secara emosional dibandingkan pria yang menangis dalam pekerjaan dengan citra feminin.
Menariknya, pria yang menangis dalam konteks maskulin juga tidak dianggap lebih lemah. Sebaliknya, mereka justru dinilai memiliki kekuatan mental lebih tinggi, lebih pantas menunjukkan emosi, serta memiliki status sosial yang lebih baik.
Temuan serupa muncul dalam eksperimen kedua yang menggunakan situasi olahraga kompetitif. Atlet pria yang menangis setelah pertandingan dalam cabang olahraga yang dianggap maskulin dinilai lebih kuat secara emosional dibandingkan atlet yang menangis dalam cabang olahraga yang memiliki citra lebih feminin.
Baca Juga: Bupati Deli Serdang Copot Ketua FKDM Usai Komentar Provokatif, Kepala Kesbangpol Mundur
Hal ini menunjukkan bahwa makna sebuah tangisan tidak hanya ditentukan oleh ekspresi emosinya, tetapi juga oleh lingkungan sosial tempat emosi tersebut muncul.
Dalam dunia olahraga, air mata seorang atlet sering dianggap sebagai simbol perjuangan, dedikasi, kemenangan, atau rasa bangga setelah melewati tekanan besar. Tangisan setelah meraih kemenangan atau mengalami kekalahan dramatis justru kerap mendapatkan apresiasi karena dianggap sebagai bukti keterikatan emosional terhadap perjuangan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa standar maskulinitas masih memengaruhi cara masyarakat menilai ekspresi emosi pria. Ketika tangisan muncul dalam situasi yang dianggap "kuat" atau "kompetitif", masyarakat cenderung melihatnya sebagai bentuk keberanian, bukan kelemahan.
Meski demikian, para ahli psikologi menilai bahwa kemampuan mengekspresikan emosi secara sehat merupakan bagian penting dari kesejahteraan mental. Menangis bukan semata tanda kesedihan, tetapi juga mekanisme alami manusia untuk melepaskan tekanan dan memproses pengalaman emosional.
Pada akhirnya, air mata tidak mengenal gender. Baik pria maupun perempuan memiliki hak untuk merasakan dan mengekspresikan emosi. Yang membedakan hanyalah bagaimana lingkungan sosial memberikan makna terhadap ekspresi tersebut.
"Lucu juga ya, kalau menangis karena olahraga dianggap emosional dan kuat, tapi kalau menangis karena masalah pribadi malah sering dianggap lemah. Padahal sama-sama manusia."
Baca Juga: Dongkrak Penjualan Varian Classy, Yamaha Medan Gelar Pameran di Dua Lokasi Strategis
"Seorang atlet menangis setelah pertandingan bukan berarti kalah mental. Kadang justru karena mereka sudah memberikan segalanya."
"Mungkin sudah waktunya laki-laki tidak selalu dituntut terlihat kuat. Punya emosi bukan berarti kehilangan maskulinitas."(lin)
Editor : Redaksi