sumutpos.jawapos.com - Indonesia mulai memasuki babak baru dalam perjalanan demografi. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, untuk pertama kalinya Indonesia resmi berada dalam fase aging population atau populasi menua.
Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (28/8/2026), Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono menyebut, proporsi penduduk lanjut usia (lansia) kini mencapai 11,97 persen dari total penduduk Indonesia.
Perubahan komposisi penduduk ini menjadi penanda bahwa jumlah masyarakat berusia lanjut terus meningkat. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga akan memengaruhi sistem perlindungan sosial, kebutuhan ekonomi keluarga, hingga pasar tenaga kerja.
Baca Juga: DPW Perindo Sumut-Batubara Panaskan Mesin Politik, Ratusan Kader Muda Ditempa Menuju Pemilu 2029
Berdasarkan Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025, tercatat sekitar 25,17 juta keluarga atau 33,98 persen dari seluruh keluarga yang terdata memiliki sedikitnya satu anggota keluarga lansia.
Di balik meningkatnya angka harapan hidup, muncul tantangan baru yang mulai dirasakan banyak keluarga, yakni bertambahnya kelompok sandwich generation atau generasi sandwich.
Kelompok ini merupakan masyarakat usia produktif yang harus menjalankan peran ganda, yakni memenuhi kebutuhan anak-anak yang masih menjadi tanggungan sekaligus merawat orang tua yang memasuki usia lanjut.
Baca Juga: PNSI Batubara Dorong Nelayan Paham Hukum dan Perkuat Akses Permodalan
Budi Setiyono menjelaskan, kondisi ideal dalam siklus kehidupan adalah seseorang mempersiapkan masa tua melalui tabungan dan aset yang dikumpulkan ketika masih berada di usia produktif. Hal ini sejalan dengan teori Life Cycle Hypothesis yang dikembangkan ekonom peraih Nobel, Franco Modigliani.
Namun, realitas di negara berkembang seperti Indonesia menunjukkan kesiapan finansial masyarakat menghadapi masa tua masih menjadi tantangan. Tidak seluruh pekerja memiliki akses terhadap sistem pensiun, terutama mereka yang bekerja di sektor informal.
Akibatnya, sebagian keluarga masih harus mengandalkan anggota keluarga usia produktif untuk menopang kebutuhan ekonomi lintas generasi.
Baca Juga: Pilih Lari Pagi atau Lari Sore? Ini Kelebihannya Masing-masing
Fenomena ini berpotensi menjadi persoalan sosial dan ekonomi dalam beberapa dekade mendatang apabila tidak diantisipasi sejak dini. Pemerintah perlu memperkuat perlindungan sosial, memperluas akses jaminan hari tua, serta mendorong masyarakat membangun kesiapan finansial sebelum memasuki usia lanjut.
Di ruang digital, isu meningkatnya populasi lansia dan beban generasi sandwich turut mendapat perhatian publik. Sejumlah warganet menilai kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya perencanaan keuangan sejak muda. Sebagian lainnya menyoroti perlunya negara hadir memberikan perlindungan lebih kuat agar tanggung jawab merawat lansia tidak sepenuhnya dibebankan kepada keluarga.
Memasuki era populasi menua, Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan jumlah penduduk lansia yang meningkat, tetapi juga bagaimana memastikan setiap generasi tetap dapat hidup sejahtera tanpa membebani generasi berikutnya.(lin)
Editor : Redaksi