sumutpos.jawapos.com – Isu dugaan “krisis ojek online (ojol)” tengah ramai diperbincangkan warganet di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna layanan transportasi daring mengaku kesulitan mendapatkan pengemudi untuk berbagai layanan, mulai dari antar penumpang hingga pesan-antar makanan.
Keluhan tersebut muncul terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Sejumlah pengguna mengaku harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan driver, bahkan ada yang menyebut waktu tunggu mencapai hampir satu jam.
Melansir Instagram @pandemictalks, Kamis (12/3/2026), seorang pengguna media sosial menuliskan pengalamannya ketika memesan layanan antar makanan, tetapi tidak kunjung mendapatkan driver. Ia mempertanyakan apakah benar Indonesia sedang mengalami “krisis ojol” karena kesulitan mendapatkan pengemudi dalam beberapa minggu terakhir.
Tidak hanya untuk layanan makanan, keluhan juga muncul pada pengiriman barang instan. Beberapa konsumen bahkan mengaku pesanan yang seharusnya diantar cepat justru baru tiba beberapa hari kemudian karena toko online kesulitan mendapatkan kurir pengantaran instan.
Menanggapi isu tersebut, sejumlah mitra pengemudi mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan menjelang Lebaran menjadi salah satu penyebab layanan terasa lebih sulit didapatkan.
Seorang driver mengatakan jumlah pesanan meningkat cukup signifikan selama Ramadan. Kondisi ini membuat pengemudi lebih selektif dalam menerima order, terutama ketika situasi lalu lintas sedang macet atau jarak pengantaran cukup jauh.
Selain itu, tingginya permintaan layanan pengantaran makanan dan barang juga membuat sebagian pengemudi fokus pada jenis order tertentu yang dinilai lebih menguntungkan.
Perbincangan mengenai “krisis ojol” pun dengan cepat menyebar di media sosial. Banyak warganet membagikan pengalaman serupa ketika kesulitan mendapatkan driver, sementara yang lain menilai fenomena tersebut hanya bersifat sementara karena lonjakan permintaan layanan.
Di sisi lain, isu ini juga kembali memunculkan diskusi tentang kondisi kerja pengemudi ojol di Indonesia. Beberapa pihak menilai pekerjaan ini masih berada dalam sektor informal dengan pendapatan yang tidak selalu stabil serta perlindungan kerja yang terbatas.
Para pengamat menyebut fenomena tersebut menjadi cerminan dinamika ekonomi digital di Indonesia, di mana permintaan layanan transportasi dan pengantaran meningkat pesat, tetapi keseimbangan antara jumlah pengemudi dan permintaan pasar belum selalu stabil.
Meski begitu, hingga kini belum ada data resmi yang menyatakan Indonesia benar-benar mengalami “krisis ojol”. Banyak pihak menilai fenomena yang ramai di media sosial tersebut lebih berkaitan dengan lonjakan permintaan layanan pada periode tertentu, seperti Ramadan dan menjelang Lebaran.(lin)
Editor : Redaksi