sumutpos.jawapos.com - Di tengah mahalnya biaya layanan kesehatan yang kerap menjadi kekhawatiran sebagian masyarakat, sebuah praktik berbeda diterapkan oleh Dokter Yusuf Nugraha dari Klinik Harapan Sehat. Melalui konsep yang ia sebut sebagai “ijab kabul”, warga tetap dapat memperoleh layanan kesehatan dengan membayar sesuai kemampuan masing-masing.
Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (20/7/2026), sebelum menjalani pemeriksaan, pasien cukup menyampaikan kesanggupan membayar kepada pihak klinik. Nominalnya tidak ditentukan secara kaku, melainkan disesuaikan dengan kondisi ekonomi pasien.
Ada yang membayar Rp5.000, Rp20.000, membawa hasil panen, makanan, barang layak pakai, hingga botol plastik bekas. Bagi warga yang benar-benar tidak mampu, layanan kesehatan tetap diberikan secara gratis.
Bagi Dokter Yusuf, konsep tersebut lahir dari keyakinan bahwa kesehatan merupakan hak dasar setiap manusia yang tidak boleh terhalang oleh persoalan ekonomi.
“Saya ingin memastikan semua orang tetap bisa berobat tanpa terkendala biaya. Kesehatan adalah hak fundamental setiap manusia,” ujar Yusuf.
Ia mengaku tidak ingin melihat masyarakat memilih menahan rasa sakit hanya karena tidak memiliki uang untuk mendapatkan pengobatan. Menurutnya, pelayanan kesehatan harus hadir sebagai solusi, bukan menjadi beban tambahan bagi warga yang sedang mengalami kesulitan.
Meski menerapkan sistem pembayaran fleksibel, Klinik Harapan Sehat tetap berjalan dengan mekanisme yang berkelanjutan. Pasien yang memiliki kemampuan finansial tetap membayar secara normal. Dana tersebut kemudian menjadi bagian dari subsidi silang untuk membantu operasional klinik sekaligus melayani pasien yang kurang mampu.
Konsep tersebut juga menjadi bukti bahwa pelayanan sosial dan keberlangsungan bisnis kesehatan dapat berjalan berdampingan.
Dokter Yusuf tidak khawatir sistem yang diterapkannya akan menghambat pemasukan klinik. Ia justru melihat perjalanan Klinik Harapan Sehat selama 18 tahun sebagai bukti bahwa niat baik dapat membawa keberkahan.
Sejak berdiri pada 2008, klinik tersebut berkembang dari bangunan sederhana berukuran hanya 3x4 meter persegi hingga kini memiliki gedung dua lantai. Setiap hari, klinik itu mampu melayani sekitar 250 pasien.
“Dalam matematika manusia, 10 dikurangi 11 hasilnya minus 1. Tapi dalam matematika Allah, justru bisa menjadi sejuta,” tutur Yusuf.
Ungkapan tersebut menggambarkan keyakinannya bahwa kebaikan yang diberikan kepada masyarakat dapat kembali dalam bentuk keberkahan yang tidak selalu bisa dihitung secara materi.
Bagi banyak warga Cianjur, konsep “ijab kabul” bukan hanya soal biaya berobat, tetapi juga menghadirkan rasa aman bahwa pintu layanan kesehatan tetap terbuka bagi siapa pun, termasuk mereka yang sedang berada dalam kondisi sulit.
Melalui pendekatan humanis tersebut, Dokter Yusuf menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dapat dibangun dengan mengedepankan empati, kepedulian, dan nilai kemanusiaan. Bukan sekadar menyembuhkan penyakit, tetapi juga menjaga harapan masyarakat agar tetap memiliki akses untuk mendapatkan pertolongan.(lin)
Editor : Redaksi