sumutpos.jawapos.com – Inovasi teknologi kembali lahir dari tangan mahasiswa Indonesia. Kali ini, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan sebuah rompi pintar bernama ADAPT-V yang dirancang untuk membantu menangani kondisi tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Melansir Instagram @cretivox, Kamis (27/8/2026), bukan sekadar pakaian biasa, ADAPT-V menggabungkan teknologi sensor, kecerdasan buatan (AI), dan Internet of Things (IoT) untuk membaca perubahan kondisi anak sekaligus memberikan respons secara otomatis.
Rompi ini bekerja dengan memanfaatkan sejumlah sensor canggih. Sensor MAX30102 digunakan untuk memantau perubahan denyut nadi, sementara sensor MPU6050 membaca pola gerakan tubuh anak. Data dari kedua sensor tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM) untuk mengenali tanda-tanda anak mulai mengalami tantrum.
Baca Juga: AC Milan vs Venezia: Kembalikan Marwah San Siro
Ketika sistem mendeteksi kondisi tersebut, mikrokontroler ESP32 akan mengaktifkan pompa udara yang terdapat pada rompi. Pompa ini kemudian mengisi kantung udara sehingga memberikan tekanan lembut pada tubuh anak.
Tekanan tersebut mengadopsi metode Deep Pressure Therapy (DPT), sebuah pendekatan yang memberikan sensasi tekanan seperti pelukan untuk membantu memberikan efek menenangkan pada sebagian anak dengan kebutuhan sensorik tertentu.
Agar tekanan yang diberikan tetap aman dan sesuai kebutuhan, ADAPT-V dilengkapi sensor tekanan MPX5100DP serta sistem kontrol PID (Proportional Integral Derivative). Saat anak mulai kembali tenang, tekanan udara akan dikurangi secara perlahan melalui solenoid valve.
Baca Juga: Dinas PMD Sumut Siapkan Kampung Kreatif Sumut Berkah, Dapat Bantuan hingga Rp50 Miliar
Selain memberikan respons otomatis, teknologi ini juga memungkinkan orang tua dan terapis melakukan pemantauan melalui aplikasi smartphone yang terhubung dengan sistem IoT. Kondisi anak serta respons rompi dapat dipantau secara real-time sehingga membantu proses pendampingan.
ADAPT-V dikembangkan oleh lima mahasiswa UB yang berasal dari bidang Psikologi dan Teknik Elektro. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kunci dalam merancang teknologi yang tidak hanya mengutamakan aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan psikologis dan kenyamanan anak.
Meski masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian, inovasi ini diharapkan dapat terus disempurnakan, terutama dalam meningkatkan akurasi deteksi, keamanan tekanan, serta kenyamanan penggunaan.
Baca Juga: Warga Binaan Rutan Medan Mampu Produksi 5 Ton Tempe Sebulan
Di media sosial, inovasi ini mendapat perhatian positif. Sejumlah warganet menilai ADAPT-V sebagai contoh bahwa teknologi dapat hadir bukan hanya untuk kemudahan, tetapi juga memberikan dukungan bagi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus. Ada yang menyebut rompi tersebut sebagai langkah kecil menuju masa depan teknologi yang lebih inklusif, sementara lainnya berharap inovasi serupa semakin banyak dikembangkan oleh mahasiswa Indonesia.
ADAPT-V menjadi gambaran bagaimana perpaduan teknologi dan ilmu sosial dapat melahirkan solusi baru untuk membantu keluarga serta tenaga pendamping dalam menghadapi tantangan tumbuh kembang anak dengan ASD.(lin)
Editor : Redaksi