sumutpos.jawapos.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat dan nelayan untuk tidak mengonsumsi ikan maupun biota laut lain yang ditemukan mati mendadak setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Melansir Instagram @rumpi_gosip, Kamis (10/9/2026), imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi karena penyebab kematian biota laut belum dapat dipastikan tanpa adanya laporan lapangan serta proses verifikasi ilmiah.
Peneliti BRIN Reza mengatakan, masyarakat tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa kematian ikan berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau hanya berdasarkan waktu kejadian yang berdekatan.
Baca Juga: Kapoksahli Pangdam I/BB Hadiri Rakor Lintas Instansi Bahas Hak dan Kesejahteraan Veteran
“Apabila nantinya ditemukan ikan atau biota laut yang mati secara mendadak, penyebabnya perlu dilihat berdasarkan sejumlah faktor,” kata Reza.
Faktor yang perlu dianalisis meliputi lokasi dan waktu kejadian, arah arus laut, kondisi perairan, hingga kemungkinan penyebab lain yang dapat memengaruhi ekosistem laut.
Menurut dia, langkah paling aman bagi masyarakat dan nelayan adalah menghindari konsumsi biota laut yang mati mendadak sebelum ada kepastian mengenai penyebabnya.
Secara ilmiah, aktivitas erupsi gunung api memang dapat membawa material seperti abu vulkanik, lava, batu apung, hingga partikel halus yang berpotensi memengaruhi kondisi perairan.
Baca Juga: Grab dan OVO Finansial Bekali 1.400 Mitra GrabMerchant di 10 Kota
Material tersebut dapat menyebabkan perubahan kualitas air, seperti meningkatnya kekeruhan, perubahan komposisi kimia perairan, serta masuknya unsur mineral tertentu.
Namun, material vulkanik juga memiliki sisi positif bagi ekosistem laut. Dalam jumlah tertentu, abu vulkanik dapat membawa unsur mineral seperti besi, fosfor, dan silika yang berpotensi mendukung pertumbuhan fitoplankton.
Fitoplankton menjadi salah satu komponen penting dalam rantai makanan laut karena berperan sebagai sumber nutrisi bagi berbagai organisme perairan.
BRIN menegaskan, pemantauan kondisi laut tetap perlu dilakukan secara berbasis data agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat terkait dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau terhadap lingkungan pesisir.(lin)
Editor : Redaksi