Anak Usia 8 Tahun Sudah Mengakses Layanan Konseling Jiwa, Kesepian Jadi Keluhan yang Banyak Muncul

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi. Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPKI) mengungkap adanya pengguna layanan konseling kesehatan jiwa Healing119 milik Kementerian Kesehatan dari usia sangat muda.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi. Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPKI) mengungkap adanya pengguna layanan konseling kesehatan jiwa Healing119 milik Kementerian Kesehatan dari usia sangat muda.(Instagram @pandemictalks) 

sumutpos.jawapos.com - Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja menjadi perhatian serius setelah Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPKI) mengungkap adanya pengguna layanan konseling kesehatan jiwa Healing119 milik Kementerian Kesehatan dari usia sangat muda.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (15/9/2026), pengguna termuda layanan tersebut diketahui berada pada rentang usia 8–10 tahun. Dalam rangka memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri, Ketua 2 Bidang Kemitraan dan Komunikasi Pengurus Pusat IPKI Annelia Sari Sani mengatakan, Healing119 menerima sekitar 500–600 kontak dalam satu shift, termasuk dari anak-anak yang benar-benar membutuhkan tempat untuk bercerita dan berkonsultasi.

Menurut Annelia, sebagian anak yang menghubungi layanan tersebut bukan sekadar mencoba, melainkan memang ingin mendapatkan bantuan. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah rasa kesepian.

“Terutama kesepian. Biasanya saat ditanya, ‘kamu ada sama siapa?’ jawabannya ‘enggak ada’. Dia sendirian,” ujar Annelia.

Baca Juga: Purbaya Yudhi Sadewa Bikin Netizen Penasaran Usai Tak Lagi Menjabat Menteri Keuangan

Ia menjelaskan, kesepian paling banyak dirasakan pada kelompok usia 12–14 tahun, yaitu masa remaja awal ketika anak mulai mengalami banyak perubahan dalam kehidupan sosial maupun emosional.

Selain kesepian, persoalan keluarga menjadi salah satu faktor yang banyak berkaitan dengan masalah kesehatan mental anak dan remaja. Kementerian Kesehatan mencatat masalah keluarga sebagai faktor penyebab bunuh diri tertinggi di Indonesia, kemudian diikuti oleh perundungan dan persoalan ekonomi.

Sementara itu, Research Fellow Harvard Medical School Sandersan Onie menyebut secara global terdapat peningkatan kasus tindakan menyakiti diri sendiri atau self-harm di kalangan anak muda, terutama perempuan muda.

Baca Juga: 104.426 Siswa Sumut Nikmati Program Bersekolah Gratis

Fenomena ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental sejak usia dini. Dukungan keluarga, lingkungan sekolah yang aman, serta akses terhadap layanan konseling menjadi hal penting agar anak dan remaja tidak menghadapi masalahnya sendirian.(lin)

Editor : Redaksi
Healing119 psikologi anak indonesia Kesehatan Mental remaja