sumutpos.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan habitat bekantan di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, menyebabkan sedikitnya 12 ekor bekantan ditemukan mati terbakar.
Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (18/9/2026), Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan Agus Ngurah Krisna mengatakan, berdasarkan laporan Kepala Desa Balimau, kawasan tersebut diperkirakan dihuni sekitar 60 ekor bekantan. Namun, jumlah pasti populasi satwa endemik Kalimantan itu masih harus dipastikan melalui pemantauan lapangan.
“Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra ikut terbakar,” ujar Agus.
Baca Juga: Padel Series Medan Meriahkan HUT ke-165 HKBP, Perkuat Sportivitas dan Silaturahmi
Selain menjadi habitat bekantan, kawasan tersebut juga dihuni berbagai satwa lain seperti lutung dan monyet ekor panjang. Tim BKSDA Kalsel masih melakukan pemantauan untuk mengetahui kondisi populasi satwa-satwa tersebut setelah kebakaran.
Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, habitat bekantan di lokasi itu terbagi menjadi dua kawasan yang terpisah dengan luas masing-masing sekitar 2 hingga 3 hektare. Sekitar 80 persen kawasan yang merupakan lahan milik masyarakat mengalami kebakaran, sedangkan area tanah desa relatif masih aman.
Agus menduga kondisi habitat yang terfragmentasi, ditambah kobaran api yang besar serta hembusan angin kencang, membuat sebagian bekantan tidak mampu menyelamatkan diri saat kebakaran terjadi.
Seluruh bangkai bekantan yang ditemukan telah dikuburkan oleh BKSDA Kalsel. Namun, apabila nantinya ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain seperti penembakan, bangkai satwa akan dibawa untuk menjalani pemeriksaan oleh dokter hewan.
Baca Juga: Bupati Karo Teken Komitmen Pencegahan Korupsi
BKSDA Kalsel juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga kawasan habitat bekantan agar satwa yang dilindungi tersebut tetap dapat bertahan di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan kebakaran hutan.(lin)
Editor : Redaksi