SUMUT POS– Ramadan selalu membawa dampak besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Menjelang bulan suci, kebutuhan konsumsi meningkat seiring padatnya aktivitas ibadah dan sosial. Kondisi ini membuat Ramadan menjadi momentum strategis bagi masyarakat yang ingin memulai atau mengembangkan usaha.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dilansir dari bps.go.id, Kamis (15/1/2026), konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan pada periode Ramadan dan Idulfitri, terutama pada kelompok makanan dan minuman serta pakaian. Bank Indonesia juga mencatat adanya lonjakan perputaran uang di sektor riil selama bulan puasa.
Usaha kuliner hampir selalu menjadi pilihan utama jelang Ramadan. Takjil, makanan berbuka puasa, hingga katering sahur praktis menjadi kebutuhan harian masyarakat. Kementerian Koperasi dan UKM RI menyebutkan, sektor makanan dan minuman merupakan jenis UMKM yang paling cepat mengalami peningkatan permintaan saat momentum keagamaan.
Tren ini turut diperkuat oleh laporan Google Indonesia melalui Consumer Insights, dilansir Kamis (15/1/2026), menunjukkan meningkatnya pencarian menu berbuka dan layanan pesan-antar selama Ramadan. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha kuliner yang memanfaatkan platform digital.
Selain makanan, kebutuhan busana Muslim juga meningkat signifikan menjelang Ramadan dan Lebaran. Gamis, baju koko, hijab, hingga mukena menjadi produk yang banyak dicari.
Kementerian Perdagangan RI, dilansir dari Instagram @kemendag, Kamis (15/1/2026) mencatat, produk fesyen Muslim dan perlengkapan ibadah termasuk kategori produk halal dengan permintaan yang relatif stabil dan cenderung naik setiap tahun.
Katadata Insight Center menilai, tren busana Muslim kini semakin beragam, tidak hanya mengutamakan fungsi ibadah, tetapi juga gaya dan kenyamanan.
Tradisi berbagi selama Ramadan turut mendorong tingginya permintaan hampers dan parcel. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), dilansir dari idea.or.id, Kamis (15/1/2026), mencatat penjualan hampers Ramadan di platform digital meningkat setiap tahun, seiring dengan tumbuhnya budaya belanja online.
Isi hampers pun semakin variatif, mulai dari makanan ringan, kue kering, kurma, hingga produk UMKM lokal dan perlengkapan ibadah.
Tidak hanya usaha berbasis produk, jasa pendukung aktivitas Ramadan juga memiliki peluang besar. Jasa kebersihan rumah, katering acara buka puasa bersama, hingga jasa desain dan konten digital semakin dibutuhkan. Konsumen Muslim di Asia Tenggara semakin mengandalkan layanan praktis dan digital selama Ramadan.
Marketplace nasional seperti Tokopedia dan Shopee juga secara rutin melaporkan kenaikan transaksi UMKM selama bulan puasa, terutama untuk produk kebutuhan harian.
Momentum Ramadan untuk Memulai Usaha
Ramadan dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk membangun usaha secara mandiri. Perencanaan yang matang, pemanfaatan teknologi, serta konsistensi kualitas menjadi kunci agar usaha musiman dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ramadan 2026 diperkirakan tetap menjadi momentum penting bagi pergerakan ekonomi masyarakat. Bagi pelaku usaha, bulan suci ini tidak hanya menghadirkan peluang meraih keuntungan, tetapi juga kesempatan memperkuat fondasi usaha jangka panjang. (lin/ram)
Editor : Juli Rambe