PALUTA, Sumutpos.jawapos.com – Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadan hingga menyambut Idul Fitri 2026, geliat ekonomi kreatif di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) mulai terasa. Di tengah maraknya kue kaleng pabrikan, masyarakat justru kembali melirik sajian tradisional: Bargot, air nira aren alami yang kini dijuluki sebagai “emas cair” dari tanah Paluta.
Minuman manis alami ini bukan sekadar pelepas dahaga saat berbuka puasa. Menjelang Lebaran, Bargot berubah menjadi komoditas yang paling diburu warga untuk mengolah berbagai hidangan khas hari raya.
Dari Takjil Ramadan ke Sajian Lebaran
Selama bulan Ramadan, Bargot dikenal sebagai takjil favorit masyarakat Paluta. Rasanya yang manis alami, segar, dan beraroma khas membuat minuman ini menjadi pilihan utama untuk membatalkan puasa.
Namun mendekati Idul Fitri, fungsi Bargot mulai bergeser. Air nira aren ini menjadi bahan utama dalam pembuatan aneka kuliner tradisional seperti dodol, wajik, hingga kue khas daerah.
“Kalau di Paluta, Lebaran terasa belum lengkap tanpa dodol atau wajik yang dimasak dengan air nira murni. Rasanya lebih legit dan aromanya harum,” ujar Dendi Harahap, seorang warga yang juga memiliki pohon aren yang siap dipanen.
Diburu Pemudik di Jalur Lintas
Letak Pasar Gunung Tua yang berada di jalur lintas Sumatera menjadikannya titik persinggahan strategis bagi para pemudik. Banyak pengendara yang pulang ke arah Gunung Tua maupun menuju Padang Sidempuan menyempatkan diri berhenti untuk membeli Bargot sebagai oleh-oleh khas daerah.
Para petani aren menyebut permintaan Bargot meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.
Bargot dari wilayah Paluta dikenal memiliki kualitas yang baik, dengan tingkat kejernihan tinggi serta rasa manis yang stabil. Meski permintaan melonjak, harga yang ditawarkan tetap terjangkau.
Pedagang mematok harga mulai dari Rp8.000 hingga Rp15.000 per botol, tergantung ukuran.
Menariknya, tahun ini muncul tren baru di kalangan masyarakat. Bargot mulai dikemas dalam botol kaca elegan untuk dijadikan hampers Lebaran, sebagai simbol silaturahmi antar keluarga dan kerabat.
Berkah bagi Penyadap Aren
Meningkatnya permintaan Bargot membawa berkah tersendiri bagi para penyadap aren atau paragat di Paluta. Di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok menjelang Lebaran, Bargot menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi warga setempat.
“Sekarang kami harus memanjat pohon aren lebih sering setiap hari karena pesanan terus berdatangan. Alhamdulillah, berkah Ramadan dan Lebaran tahun ini sangat terasa,” ungkap Dendi Harahap.
Tips Membeli Bargot
Bagi masyarakat yang ingin menjadikan Bargot sebagai sajian di meja tamu saat Idul Fitri, disarankan memilih nira rebus—yaitu Bargot yang telah dimasak sebentar. Cara ini membuat air nira lebih tahan lama dan tidak mudah asam saat disimpan.
Di tengah modernisasi kuliner, Bargot membuktikan bahwa warisan tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Dari pohon aren yang menjulang di perbukitan Paluta, mengalir manisnya tradisi yang terus hidup hingga hari kemenangan.(mag-12/han)
Editor : Johan Panjaitan