MEDAN, SUMUT POS- Dinamika jelang Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sumatera Utara kian memanas. Isu dugaan tekanan terhadap Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Golkar kabupaten/kota untuk mendukung salah satu calon ketua, Andar Amin Harahap, kini menjadi sorotan internal partai.
Ketua Harian DPD Partai Golkar Sumut, Yasir Ridho Lubis, memberikan respons singkat namun bernada heran saat dikonfirmasi terkait tudingan tersebut. Ia hanya menanggapi dengan satu kata.
“Woow,” ujar Yasir Ridho Lubis, singkat, ketika dimintai klarifikasi soal isu tekanan kepada beberapa Ketua DPD II Golkar Sumut, Senin (19/1/2026).
Pernyataan itu muncul menyusul tuduhan yang menyebut Yasir diduga memberikan tekanan politik kepada para Ketua DPD II agar menyatakan dukungan kepada Andar Amin Harahap sebagai calon Ketua DPD Golkar Sumut periode 2025–2030.
Sebelumnya Wakil Ketua Pemenangan Pemilu DPD Golkar Sumut, Sahlul Umur Situmeang, yang secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap pola penggalangan dukungan tersebut.
Sahlul menilai, dukungan yang ditampilkan sebagai dukungan massal itu tidak lahir secara alami dari dinamika kader di daerah, melainkan hasil dari manuver yang terstruktur dan sistematis.
“Dukungan yang diklaim masif itu menurut saya bukan dukungan organik. Ada indikasi kuat itu hasil tekanan dan pengondisian,” tegas Sahlul Umur Situmeang.
Ia bahkan menyebut peran sentral Ketua Harian Golkar Sumut dalam proses tersebut.
“Manuver ini diduga kuat dipelopori oleh Ketua Harian Golkar Sumut. Polanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan,” lanjutnya.
Lebih jauh, Sahlul mengungkap dugaan adanya pertemuan tertutup yang menjadi momentum utama penggalangan dukungan tersebut. Pertemuan itu disebut berlangsung di Hotel Grand City Medan, tepat setelah Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia, meninggalkan lokasi acara.
“Informasi yang kami terima, para Ketua DPD II dikumpulkan dalam sebuah pertemuan setelah Plt Ketua meninggalkan tempat. Di situlah diduga terjadi tekanan agar mereka menyatakan dukungan,” ungkap Sahlul.
Menurutnya, jika benar terjadi, praktik semacam itu berpotensi mencederai nilai-nilai demokrasi internal partai yang selama ini dijunjung oleh Golkar.
“Golkar adalah partai besar, partai demokratis. Kalau dukungan dibangun dengan tekanan, ini justru merusak marwah partai,” katanya.
Sementara itu, dinamika internal Golkar Sumut diprediksi akan terus menghangat menjelang pelaksanaan Musda XI yang akan menentukan arah kepemimpinan partai berlambang beringin itu di Sumatera Utara.
Sejumlah kader berharap, proses Musda dapat berlangsung secara terbuka, jujur, dan demokratis, tanpa intervensi ataupun tekanan terhadap pemilik suara di tingkat daerah. (rel/san/ram)
Editor : Juli Rambe