Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Sibolga dan Madina Diterjang Banjir, 4 Orang Tewas Tertimbun Longsor

Redaksi • Sabtu, 13 Oktober 2018 | 09:57 WIB
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PUTUS: Jalan di Desa Taluk, Kecamatan Natal, Madina terputus 20 meter akibat banjir, sehingga jalan tersebut tidak bisa dilalui, Jumat (12/10).
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS PUTUS: Jalan di Desa Taluk, Kecamatan Natal, Madina terputus 20 meter akibat banjir, sehingga jalan tersebut tidak bisa dilalui, Jumat (12/10).
Photo
Photo
SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
PUTUS: Jalan di Desa Taluk, Kecamatan Natal, Madina terputus 20 meter akibat banjir, sehingga jalan tersebut tidak bisa dilalui, Jumat (12/10).

MADINA, SUMUTPOS.CO - Banjir dan tanah longsor menerjang pemukiman penduduk di Kelurahan Sibolga Ilir, Kota Sibolga dan Desa Taluk, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Bencana ini mengakibatkan 4 orang warga tewas di Sibolga dan puluhan rumah dilaporkan mengalami kerusakan di Madina.


Hujan deras yang mengguyur kawasan pantai barat Sumatera Utara sejak Kamis (11/10) siang, hingga sore, mengakibatkan banjir di sejumlah sudut wilayah Kota Sibolga. Genangan air juga merendam kawasan jalan Ujung Sibolga. Banjir tersebut dipicu meluapnya Sungai Aek Doras.


Sementara di kawasan Ketapang, terjadi longsor yang menimpa sejumlah rumah warga. Bahkan, longsor tersebut menimbun sejumlah warga. Empat orang dikabarkan meninggal dunia akibat longsor tersebut. “Empat orang korban meninggal dunia tertimbun tanah longsor,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui pesan singkat, Jumat (12/10).


Sutopo mengatakan, ada enam warga lainnya yang terluka akibat tertimbun tanah longsor. Sedikitnya 20 unit rumah warga juga dilaporkan rusak akibat bencana tersebut. “Korban luka dibawa ke RS Umum Daerah. Sebagian warga mengungsi ke tempat keluarga masing-masing,” jelas Sutopo.


Wali Kota Sibolga, Syarfi Hutauruk langsung menjenguk korban di Rumah Sakit FL Tobing Sibolga, Jumat (12/10). “Kita menyampaikan belasungkawa mendalam atas musibah yang merenggut empat orang warga. Kita minta supaya masyarakat mengantisipasi daerah rawan banjir, khususnya yang tinggal di bantaran sungai,” ujar Syarfi.


Menurutnya, ada beberapa kawasan yang merupakan pemukiman masyarakat, rawan atas banjir susulan. Ancaman banjir ini dikhawatirkan akan terjadi lagi karena curah hujan di daerah tersebut masih tinggi. Karenanya, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Ini perlu dilakukan agar tidak ada lagi korban jiwa.

Adapun empat korban tewas dalam musibah banjir itu adalah Boru Marbun dan kedua orang anaknya, Wahid Tobing dan Juni Tobing. Seorang lagi adalah Sainul Lubis. Saat kejadian, seluruh korban sedang menonton acara televisi di dalam rumah Boru Marbun tersebut. Seluruh korban tewas akibat tertimpa bangunan rumah yang ambruk.


“Saat kejadian, hujan turun sangat deras. Kami terkejut karena mendengar suara seperti dentuman. Kami lihat rumah yang ditempati Boru Marbun sudah ambruk. Warga kemudian bergegas mengevakuasi dengan mengangkati batu dan menimpa korban. Mereka dilarikan ke rumah sakit. Namun, empat korban tidak bisa terselamatkan,” ujar Saidah (33), seorang warga.


Banjir dan tanah longsor juga melanda beberapa kawasan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Selain merusak puluhan rumah, bencana ini juga mengakibatkan badan jalan nasional di Desa Taluk, Kecamatan Natal, Kabupaten Madina terputus.


Menurut informasi yang diperoleh dari warga, panjang badan jalan yang terbelah lebih kurang 20 meter, sehingga dipastikan akses jalan terputus dan tidak bisa dilalui. Selain itu, sedikitnya tiga unit rumah warga di desa itu rusak parah akibat dilanda banjir.


Selain itu, tiga rumah di Desa Aek Garingging, Kecamatan Lingga Bayu, satu gudang minyak milik warga di Kelurahan Simpang Gambir dan satu warung kopi lopo gantung milik warga Kelurahan Simpang Gambir, juga hanyut terseret arus Sungai Batang Natal yang meluap. Jalan provinsi juga tertimbun longsor dan kayu tumbang.


Informasi yang diperoleh, jalan yang tertimbun longsor dan kayu tumbang mulai dari Desa Jambur Baru, Kecamatan Batang Natal sampai ke Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu lumpuh total.


“Di Desa Aek Garingging Kecamatan Lingga Bayu, ada 3 unit Rumah warga hanyut terbawa arus sungai Batang Natal,” ujar Sulaiman, warga Kecamatan Lingga Bayu.


“Kita berharap cuaca hari ini semoga makin membaik agar masyarakat tidak was-was dan ketakutan akibat dampak bencana banjir ini,” harapnya.


Abdul Rasyid Batubara, tokoh masyarakat Kelurahan Muara Soma, kecamatan Batang Natal mengatakan, di Desa Lubuk Tejo, tetangga kelurahan tempat ia tinggal, dikabarkan ada satu rumah warga yang tertimbun tanah longsor. “Untuk di Kecamatan Batang Natal, tepatnya di Desa Lubuk Tejo ada satu unit rumah warga tertimbun longsor, namun sampai saat ini warga masih terisolir di Desa Jambur Baru dikarenakan jalan lintas tertimbun tanah longsor,” katanya.


Camat Batang Natal Lion Muslim Nasution membenarkan jalan provinsi di daerah lumpuh tertimbun material longsor. “Ada beberapa rumah warga terbawa arus, tidak ada korban jiwa. Beberapa desa belum bisa kita masuk, kita berharap ada bantuan, “ujarnya.

Kapolres Madina, AKBP Irsan Sinuhaji menyampaikan, pihaknya masih melakukan proses evakuasi terhadap masyarakat yang terdampak banjir. Bahkan, aparat kepolisian juga sedang menyusuri sungai untuk mencari korban yang hilang. “Saat ini, kita masih memprioritaskan penanganan terhadap masyarakat yang terdampak bencana itu. Selain membantu proses evakuasi, kita bersama seluruh jajaran juga membantu melayani masyarakat, termasuk untuk kebutuhan pangan. Setelah itu, kita akan melakukan pendataan atas kerusakan rumah - rumah penduduk,” jelasnya.


Kapores mengatakan, banjir dan longsor juga mengakibatkan pengendara mobil masuk ke sungai. Petugas sedang berusaha melakukan pertolongan untuk mengevakuasi pengendara mobil yang di dalamnya lebih dari satu orang tersebut.


Menyikapi banjir yang terjadi di sejumlah daerah di Sumut, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi langsung memerintahkan Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis untuk bergerak cepat mendirikan posko bantuan.


Menurut Riadil, menindaklanjuti instruksi Gubsu tersebut, BPBD Sumut sudah menyiapkan posko bantuan di sejumlah daerah terdampak banjir di Sumut, bekerja sama dengan BPBD kabupaten/kota. “Saya langsung koordinasi dengan para kepala BPBD di kabupaten/kota se-Sumut. Artinya untuk selalu bersiaga dikarenakan saat ini cuaca sedang tidak dalam kondisi yang baik, kapan saja bisa terjadi bencana alam,” imbuhnya.


Menurut dia, seluruh kepala daerah di Sumut sudah dipersiapkan untuk bisa langsung bertindak cepat bila bencana alam terjadi, seperti banjir, longsor bahkan gempa bumi. Hal ini ditekankan agar tidak timbulnya korban meninggal dunia bila terjadi bencana, kemudian agar masyarakat bisa langsung dievakuasi saat terjadi bencana alam. “Kita sudah persiapkan semuanya mulai dari logistik, peralatan dan keperluan mereka (korban bencana) lalu SDM juga sudah kita siapkan,” ucapnya.


Dirinya juga mengatakan, saat ini Kota Medan sering terjadi bencana alam berupa banjir, bahkan sejumlah daerah di Sumut juga terkena dampak bencana alam yang cukup parah. Salah satu contohnya seperti Madina yang sering dilanda banjir bila curah hujan sedang tinggi. Dan untuk permasalahan banjir di Madina, dirinya belum bisa memastikan bahwa tanggul yang jebol akibat air yang meningkat. Sebab pemerintah pusat juga punya tanggung jawab akan hal ini tanggul.


“Nanti kita pastikan dulu data konkritnya. Termasuk di titik mana lokasi bencana. Setelah itu untuk pembangunan akan disinkronisasi sesuai kewenangan masing-masing,” ujarnya.

Banjir di Langkat Semakin Meluas

Tingginya intensitas curah hujan dalam sepekan ini, juga menyebabkan banjir di Kabupaten Langkat meluas. Belum lagi banjir yang merendam rumah warga di Desa Sidomulyo Kecamatan Binjai, dan Kelurahan Dendang Kecamatan Stabat surut seluruhnya, banjir kini sudah merendam rumah warga di Kecamatan Tanjung Pura dan Sei Lepan, Jumat (12/10).


Dari pantuan di lokasi, banjir masih mengenangi rumah warga bahkan hingga aspal jalan. Seperti di Dusun IX Kampung Baru, Desa Ara Condong, Kecamatan Stabat. Untuk menuju dusun yang dihuni 75 KK ini, jalan yang dilalui seakan terkepung banjir sehingga kendaraan roda dua dan empat tak bisa melintas karena ketinggian air mencapai 100 cm.


“Sampai sekarang masih terisolir dan kita berharap ada bantuan dari pemerintah daerah,” kata Kepala Desa Ara Condong, Kecamatan Stabat, Hasan Basri kepada Sumut Pos, Jumat (12/10).


Sementara data dari BPBD Kabupaten Langkat, tercatat rumah-rumah yang dihuni 1.427 KK di empat kecamatan yakni Stabat, Secanggang, Tanjungpura, dan Sei Lepan terendam banjir. (bbs/prn/bam) Editor : Redaksi
#madina #banjir