Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Warga Blokir Jalan dengan Barikade Sampah, Protes Keras untuk DLH Paluta

Johan Panjaitan • Rabu, 18 Februari 2026 | 10:49 WIB
Protes warga dengan membuang sampah di badan jalan kawasan Paar Gunungtua, Paluta. (MITRA HARAHAP/SUMUT POS)
Protes warga dengan membuang sampah di badan jalan kawasan Paar Gunungtua, Paluta. (MITRA HARAHAP/SUMUT POS)

PALUTA, Sumutpos.jawapos.com– Kesabaran warga akhirnya runtuh. Tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut selama sepekan memicu aksi protes tak biasa di kawasan Pasar Gunungtua, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, Selasa (17/2/2026).

Dalam luapan kekecewaan, warga dan pedagang menyulap Simpang Empat Pasar Gunungtua menjadi “tempat pembuangan akhir” dadakan. Limbah organik dan plastik ditumpuk melintang di badan jalan, sengaja dijadikan barikade sebagai bentuk protes terbuka terhadap kinerja Dinas Lingkungan Hidup Padang Lawas Utara yang dinilai abai.

Bau Menyengat Jadi 'Teror'

Aksi spontan ini seketika mengubah wajah pusat aktivitas ekonomi menjadi kacau. Arus lalu lintas yang biasanya ramai kini tersendat, bahkan nyaris lumpuh. Ratusan kendaraan—mulai dari sepeda motor hingga truk besar—dipaksa merayap pelan sambil bermanuver menghindari gunungan sampah di tengah jalan.

Tak hanya mengganggu mobilitas, aroma busuk yang menyengat dari sampah yang mengerak selama berhari-hari ikut menyelimuti kawasan tersebut. Setiap pengendara yang melintas tak punya pilihan selain “menikmati” bau menyengat yang menusuk indera penciuman.

“Sampah sudah seminggu tak diangkut. Ini protes masyarakat agar dinas terkait segera bertindak. Kondisi ini membuat citra daerah tercoreng,” ujar seorang warga, Dedi Siregar, dengan nada kesal.

Hingga pukul 21.00 WIB, tumpukan sampah masih menguasai badan jalan di simpang tersebut. Warga berharap armada pengangkut segera turun tangan sebelum kondisi semakin memburuk.

Bagi masyarakat, aksi ini bukan semata soal kebersihan. Ini adalah bentuk kekecewaan yang memuncak—sebuah pesan keras bahwa kenyamanan publik di pusat kota tidak boleh diabaikan. Jika tidak segera ditangani, tumpukan sampah dikhawatirkan terus bertambah seiring padatnya aktivitas pasar setiap hari.

Di tengah hiruk-pikuk kota kecil yang bergantung pada pergerakan ekonomi pasar, gunungan sampah itu kini menjadi simbol protes—tajam, nyata, dan sulit diabaikan.(mag-12/han)

Editor : Johan Panjaitan
#sampah #protes #blokir