sumutpos.jawapos.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi khas untuk menyambutnya.
Salah satu yang masih dilestarikan hingga kini adalah tradisi marpangir yang berasal dari masyarakat Mandailing dan Angkola di Sumatera Utara. Tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga sarat makna spiritual bagi masyarakat setempat.
Marpangir merupakan tradisi mandi menggunakan ramuan rempah-rempah alami yang dilakukan menjelang Ramadhan. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sebagai bentuk persiapan diri menyambut bulan puasa, baik secara lahir maupun batin.
Melansir nu.or.id, Sabtu (14/2/2026), dalam praktiknya, marpangir dilakukan dengan menggunakan berbagai bahan alami seperti daun sereh wangi, daun jeruk purut, daun pandan, daun nilam, mayang pinang, hingga berbagai akar tanaman. Semua bahan tersebut direbus bersama air, kemudian digunakan untuk mandi.
Dahulu, tradisi ini juga berfungsi sebagai pengganti sabun karena masyarakat belum mengenal produk pembersih modern. Biasanya, proses pencarian bahan dilakukan bersama keluarga sehingga tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan.
Marpangir umumnya dilaksanakan di sungai atau pemandian umum. Masyarakat berkumpul, saling membantu, sekaligus menjadikan tradisi tersebut sebagai momen kebersamaan. Selain membersihkan tubuh, marpangir memiliki makna simbolis, yakni membersihkan diri dari segala kotoran dan kesalahan agar siap menjalani ibadah Ramadhan dengan hati yang suci.
Secara spiritual, mandi sebelum Ramadhan dipercaya mampu meningkatkan kekhusyukan dalam menjalankan ibadah puasa. Tubuh yang bersih dan segar diyakini membantu seseorang lebih fokus dalam beribadah. Tradisi ini juga memberi semangat baru bagi masyarakat dalam menjalani puasa selama satu bulan penuh.
Selain itu, masyarakat memandang pelestarian marpangir sebagai upaya menjaga identitas budaya yang diwariskan leluhur. Meski zaman terus berkembang, tradisi tersebut dinilai tetap relevan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Bagaimana Hukum Marpangir dalam Islam?
Dalam perspektif syariat, mandi menjelang Ramadhan bukan termasuk kewajiban atau syarat sah puasa. Mandi wajib hanya dilakukan ketika seseorang mengalami hadas besar seperti setelah berhubungan suami istri, haid, atau nifas.
Namun, dalam literatur fikih disebutkan bahwa mandi pada malam Ramadhan termasuk amalan yang dianjurkan atau sunnah. Ulama menjelaskan bahwa mandi tersebut dapat dilakukan setiap malam selama bulan Ramadhan sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci.
Dengan demikian, apabila marpangir dilakukan pada malam menjelang Ramadhan, hukumnya dapat dikategorikan sebagai sunnah. Sementara jika dilakukan pada siang atau sore hari sebelum Ramadhan, tradisi tersebut tetap diperbolehkan karena memiliki makna simbolis untuk menyucikan diri dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Selain itu, bahan-bahan alami yang digunakan dalam marpangir dinilai halal serta memiliki manfaat aromaterapi dan menyegarkan tubuh. Tradisi ini bahkan dapat menjadi media dakwah untuk mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan sekaligus mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.
Marpangir menjadi bukti bahwa budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menjadi simbol kesiapan spiritual masyarakat dalam menyambut bulan penuh berkah.
Di tengah modernisasi, pelestarian tradisi marpangir menunjukkan bahwa masyarakat masih memegang teguh nilai budaya dan religius yang diwariskan secara turun-temurun. (lin)
Editor : Redaksi