SUMUT POS– Di tengah gaya hidup modern yang serba mewah, sosok dr Mangku Sitepoe viral di media sosial. Sosoknya diyakini sebagai potret keteladanan tentang arti pengabdian dan kesederhanaan.
Dokter senior berusia 84 tahun ini viral karena pilihannya menjalani hidup sederhana serta dedikasinya melayani masyarakat tanpa memandang materi.
Berbeda dengan kebanyakan dokter pada umumnya, dr Mangku tak menggunakan mobil pribadi untuk bepergian. Ia lebih memilih menaiki mikrolet sebagai alat transportasi sehari-hari. Pilihan itu bukan tanpa alasan.
“Saya tidak butuh hidup mewah. Selama masih bisa naik angkutan umum dan sampai tujuan dengan selamat, itu sudah cukup,” ujar dr Mangku, dilansir dari Instagram @lambegosiip, Minggu (18/1/2026).
Di usia senjanya, ia ingin hidup apa adanya dan tidak mengejar kemewahan. Kesederhanaan hidupnya sejalan dengan prinsip kemanusiaan yang ia pegang teguh.
dr Mangku aktif memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Bahkan, ia hanya mematok tarif Rp10 ribu untuk biaya berobat, termasuk obat-obatan. Pada awalnya, seluruh layanan kesehatan yang ia berikan digratiskan sejak tahun 2005.
"Dulu semuanya gratis. Tapi ada yang menyalahgunakan obat untuk dijual kembali. Akhirnya kami tetapkan tarif kecil agar pelayanan tetap berjalan,” tuturnya.
Bagi dr Mangku, tujuan utama praktik medis bukanlah mencari keuntungan. Ia lebih mengedepankan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.
“Menjadi dokter itu panggilan kemanusiaan. Kalau niatnya uang, saya rasa salah dari awal,” katanya tegas.
Prinsip itu telah ia pegang sejak awal kariernya. Menariknya, perjalanan Dr Mangku di dunia kesehatan bermula sebagai dokter hewan pada 1978. Pengalaman panjang itu kemudian mengantarkannya menjadi dokter yang dekat dengan masyarakat.
Pada 1995, dokter kelahiran Tanah Deli, Sumatera Utara, ini menggagas pendirian tempat pengobatan gratis. Klinik yang ia dirikan bersama rekan-rekannya kini terus berkembang dan bahkan membuka cabang baru seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Meski hanya menerima bayaran Rp10 ribu, dr Mangku tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal. Pasien tak hanya mendapatkan pemeriksaan, tetapi juga obat-obatan yang dibutuhkan.
“Saya ingin pasien pulang dengan harapan, bukan dengan beban,” ucapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia mengandalkan uang pensiun serta bantuan dari anak-anaknya.
Di sela kesibukannya melayani pasien, dr Mangku masih aktif menulis buku pada malam hari. Meski kondisi fisiknya tak lagi prima dan tangannya mengalami tremor, semangatnya untuk berkarya tak pernah padam.
“Saya menulis bukan untuk mencari uang. Saya ingin berbagi pengalaman hidup, siapa tahu bisa bermanfaat,” katanya.
Di usia 84 tahun, dr Mangku Sitepoe tetap setia mengabdi bagi kemanusiaan. Baginya, pengabdian adalah panggilan hidup.
“Selama masih diberi napas, saya ingin tetap berguna bagi orang lain,” pungkasnya.
Adapun tempat praktiknya berada di Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Santo Tarsisius berada di Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. (lin/ram)
Editor : Juli Rambe