SUMUTPOS.CO-Harga Bitcoin diperkirakan melonjak hingga USD 250 ribu (sekitar Rp 4,1 miliar dengan kurs Rp 16.780 per USD) akhir tahun nanti. Prediksi tersebut disampaikan pendiri blockchain Cardano, Charles Hoskinson, dalam wawancara program Beyond The Valley milik CNBC.
Dia mengungkapkan, lonjakan harga tersebut akan ditopang sejumlah faktor. Di antaranya, peningkatan adopsi kripto global, perkembangan geopolitik, serta kebijakan moneter AS. Tujuh raksasa teknologi dunia (Magnificient 7) bakal mulai mengadopsi koin stabil (stablecoin) begitu regulasi baru disahkan.
’’Pasar akan mulai stabil dan terbiasa dengan kondisi baru. Setelah itu, Federal Reserve mungkin menurunkan suku bunga sehingga bisa memicu aliran uang cepat dan murah ke dalam aset kripto,’’ kata Hoskinson sebagaimana dilansir CNBC, Jumat (11/4).
Dia menyampaikan, kondisi geopolitik saat ini turut mendorong peran kripto sebagai alternatif yang lebih netral di tengah ketidakpastian global. ’’Rusia telah menginvasi Ukraina. Begitu pula Tiongkok. Jika mereka ingin menyerang Taiwan, itu bisa terjadi. Perjanjian internasional tak lagi efektif. Karena itu, solusi untuk globalisasi kini adalah kripto,’’ tegasnya.
Dalam kerangka itulah, dia menyatakan, regulasi yang tengah dibahas di Kongres AS, termasuk Digital Asset Market Structure and Investor Protection Act, akan sangat vital. Undang-undang itu bertujuan mengatur perlakuan hukum terhadap berbagai jenis aset digital dan diperkirakan memicu gelombang adopsi dari perusahaan besar.
Meski harga Bitcoin sempat melemah dan turun dari rekor lebih dari USD 100 ribu pada Januari lalu, sentimen pelaku industri masih tetap positif. Pekan ini harga Bitcoin sempat turun di bawah USD 77 ribu. Setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penurunan tarif sementara menjadi 10 persen untuk sebagian besar negara, Bitcoin kembali naik lebih dari USD 82 ribu.
Melihat dinamika tersebut, banyak analis sepakat bahwa tahun ini (2025) akan menjadi momentum penting bagi transisi sistem keuangan global menuju ranah digital yang lebih terdesentralisasi. (din/dri/jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan