MEDAN, SUMUT POS- Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal pertama tahun 2026 sebesar 5.61 persen secara year on year (yoy).
Hal ini, jelas Gunawan, sebenarnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Yakni, pertama low base effect atau pertumbuhan ekonomi di periode yang sama tahun sebelumnya (2025), sempat merealisasikan angka pertumbuhan yang sangat rendah 4.86 peesen (yoy) kala itu.
Kedua, dominasi belanja pemerintah yang sebesar 21.81 persen juga turut mendorong pemulihan kinerja ekonomi di kuartal pertama.
Baca Juga: Polda Sumut Tangkap Dua Pelaku Begal Sadis di Angkot Morina 81 yang Viral di Medsos
Kemudian, ketiga ada perayaan keagamaan seperti Ramadan dan Idul Fitri yang membuat belanja masyarakat turut berkontribusi signifikan.
Keempat dampak perang Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel justru mulai dirasakan pukulannya di periode April hingga saat ini. Di mana pelemahan Rupiah hingga kenaikan harga plastik justru mulai berdampak pada penurunan omset penjualan dan memicu kenaikan harga (inflasi).
"Sehingga pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun 2026 belum sepenuhnya menanggung dampak negatif dari perang yang pecah di Timur Tengah. Namun ke depan tantangan pertumbuhan ekonomi nasional kian berat. Perang yang berlanjut, Rupiah yang sudah menembus 17.500 per US Dolar, defisit APBN yang melebar dan berpeluang mendorong kenaikan DSR (debt to service ratio), kenaikan harga plastik, serta potensi kenaikan harga kebutuhan pokok, akibat penyesuaian harga pokok produksi (naik)," ujarnya di Medan, Jumat (15/5).
Ia menilai, pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama juga tetap menuai kritikan, di mana ada peningkatan tenaga kerja informal di Februari 2026 sebesar 0.02 persen poin menjadi 59.42 persen.
"BPS (Badan Pusat Statistik) menyatakan, bahwa pemulihan ekonomi di kuartal pertama tahun ini juga dipengaruhi oleh belanja MBG (makan bergizi gratis). Yang kalau saya tafsirkan bisa saja belanja MBG dihitung sebagai pengeluaran masyarakat," katanya.
Menurut Gunawan, dengan ancaman lompatan inflasi dalam waktu dekat ini, dan bisa dipastikan akan mendorong kenaikan harga jual. "Maka resiko yang kita hadapi selanjutnya adalah potensi penurunan belanja masyarakat. Di sisi lain saya juga mewanti wanti bahwa sustainability (keberlangsungan) sektor manufaktur pengguna plastik berpeluang alami gangguan," bebernya.
Sehingga, lanjutnya, terlepas dari kritikan yang mencuat pada rilis data pertumbuan ekonomi di kuartal pertama, pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua berpeluang melambat. Tekanan belanja masyarakat (daya beli) karena inflasi bisa diterjemahkan sebagai kemungkinan penurunan daya beli, dan menjadi ancaman pada angkatan kerja di kuartal selanjutnya.
"Saya melihat pemerintah tidak perlu mengglorifikasi pemulihan kinerja ekonomi di kuartal pertama, sebaiknya kita harus realistis dengan kondisi perekonomian nasional yang fundamentalnya tengah digerogoti sejumlah masalah internal dan parahnya didominasi oleh tekanan ekonomi eskternal sejak perang di Selat Hormuz pecah," pungkasnya. (dwi/ram)
Editor : Juli Rambe