Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dolar AS, Tekanan Global dan Kebutuhan Valas Jadi Pemicu

Johan Panjaitan • Kamis, 4 Juni 2026 | 09:00 WIB
DIPREDIKSI: Celios memprediksi rupiah bisa tembus Rp20 ribu per dolar AS akhir Juni 2026 jika pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi. (iLUSTRASI/INVESTOR)
DIPREDIKSI: Celios memprediksi rupiah bisa tembus Rp20 ribu per dolar AS akhir Juni 2026 jika pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi. (iLUSTRASI/INVESTOR)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat pada perdagangan Selasa (3/6/2026). Mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal dan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan dolar AS tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan arah penyelesaian dalam negosiasi program nuklir Teheran.

Situasi tersebut turut diperburuk oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, melibatkan Iran, Israel, dan Lebanon, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi ini membuat investor global beralih ke aset aman (safe haven), termasuk dolar AS.

Kenaikan harga minyak dunia pun menambah tekanan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat. Biaya transportasi dan logistik yang meningkat mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Sikap hawkish sejumlah pejabat The Fed serta data ketenagakerjaan AS yang masih solid semakin mempersempit peluang pelonggaran kebijakan moneter.

“Kondisi ini membuat dolar AS semakin kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Ibrahim.

Baca Juga: Mhd Eftah Zaelani Tanjung Menangi Pilkades Sigara Gara, Siap Wujudkan Desa yang Lebih Maju

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga diperparah oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk berbagai keperluan, mulai dari impor energi, pembayaran dividen kepada investor asing, hingga pelunasan utang luar negeri yang jatuh tempo.

Selain itu, sebagian pelaku pasar dan masyarakat mulai mengalihkan aset ke instrumen berbasis valuta asing sebagai langkah antisipasi terhadap volatilitas pasar, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.

 

Menanggapi pelemahan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar keuangan serta penguatan kebijakan moneter dan likuiditas valas.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa bank sentral secara aktif memantau dinamika pasar global dan domestik untuk memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga.

“Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas,” ujarnya.

Baca Juga: Tiga WNA Sri Lanka Didakwa Selundupkan Puluhan Migran ke Pulau Reunion Prancis

Sebagai langkah stabilisasi tambahan, BI juga memberlakukan aturan baru pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sejak 2 Juni 2026, dengan batas maksimal USD 25.000 per pelaku per bulan.

Selain itu, BI memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional. Kerja sama LCT Indonesia telah terjalin dengan sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Pergerakan Rupiah Sepekan Terakhir

Rupiah tercatat terus mengalami fluktuasi dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data Bank Indonesia, pergerakannya adalah sebagai berikut:

Tekanan yang terus berlanjut menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tantangan berat di tengah ketidakpastian global dan tingginya kebutuhan valas domestik.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#global #melemah #rupiah #dollar #as