JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Bagi sebagian besar aktor, tampil maksimal saat casting menjadi kunci untuk mendapatkan sebuah peran. Namun, pengalaman berbeda justru dialami Ari Irham. Alih-alih datang dengan kondisi terbaik, ia mengikuti proses audisi film Seni Merayu Tuhan ketika sedang berada di fase yang berat secara mental dan spiritual. Tak disangka, keadaan itu justru mengantarkannya menjadi pemeran utama.
Ari mengungkapkan, saat mengikuti casting dirinya tengah menghadapi pergulatan batin yang membuatnya sama sekali tidak memiliki ekspektasi untuk lolos.
"Pas casting, saya lagi ada sesuatu. Saya lagi nggak fit dalam spiritual dan mental. Saya ikut casting aja, tanpa harapan untuk dapat perannya," ujar Ari dalam jumpa pers di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (15/7).
Baca Juga: Sehari Berstatus Saksi, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Kembali Ditegaskan sebagai Tersangka
Dalam proses audisi, Ari hanya diminta memainkan dua adegan, salah satunya adegan azan yang kini muncul dalam trailer film. Saat itu, ia bahkan belum mengetahui keseluruhan alur cerita yang akan diangkat.
"Itu pas casting juga cuma dapat dua adegan, tanpa tahu cerita utuhnya. Minggu depan casting lagi, dengan kondisi yang tidak baik secara mental, juga nggak berharap apa-apa," tuturnya.
Tak lama kemudian, kabar yang datang justru di luar dugaannya. Ari dipercaya memerankan Hikmah, tokoh utama dalam adaptasi buku reflektif karya Habib Jafar tersebut.
Alih-alih langsung merasa percaya diri, Ari justru diliputi rasa takut. Menurutnya, karakter Hikmah memiliki perjalanan hidup yang terlalu dekat dengan kondisi yang sedang ia alami.
"Saya sejujurnya takut memerankan Hikmah, karena ceritanya terlalu dekat dengan kehidupan nyata," katanya.
Dalam film tersebut, Hikmah digambarkan sebagai seorang pemuda yang kehilangan sang ibu dan terjebak dalam kemarahan, kebingungan, serta kehampaan hidup. Di tengah keterpurukan itu, ia perlahan menemukan jalan menuju ketenangan melalui pencarian spiritual.
Baca Juga: Alwi Farhan Bangkit, Tundukkan Alex Lanier dan Melaju ke Perempat Final Japan Open 2026
Meski tidak mengalami kehilangan orang tua seperti tokoh yang diperankannya, Ari mengaku banyak sisi Hikmah yang membuatnya bercermin pada dirinya sendiri.
"Saya menyadari bahwa saya selalu merasa paling benar, nggak mau mendengarkan orang lain. Pas adegan Khotib bilang begitu ke Hikmah, saya nangis, sih," ungkap aktor film Takkan Kubiarkan Kau Menangis itu.
Untuk membangun karakter yang kuat, sutradara Cesa David Luckmansyah tidak hanya mengandalkan sesi reading naskah. Ia juga mengajak Ari berdialog dari hati ke hati mengenai pengalaman hidup masing-masing.
Menurut Ari, pendekatan tersebut membuat proses pendalaman karakter terasa lebih personal.
"Kami ngobrolin kehidupan masing-masing. Dari situ kami bisa terbuka dan menciptakan karakter," ujarnya.
Metode itu menjadi penting karena Seni Merayu Tuhan diadaptasi dari buku karya Habib Jafar yang berbentuk kumpulan esai reflektif, bukan cerita naratif. Karena itu, karakter Hikmah harus dibangun melalui interpretasi dan pengalaman emosional para pembuat film.
Bagi Ari, proyek ini lebih dari sekadar pekerjaan sebagai aktor. Film tersebut menjadi ruang untuk memahami dirinya sendiri sekaligus menjalani proses pendewasaan.
"Saya butuh belajar jadi manusia yang lebih baik, dengan proses spiritual Hikmah. Itu yang bikin saya berani dan mantap dengan proyek ini," pungkasnya.
Melalui Seni Merayu Tuhan, Ari Irham tak hanya memerankan seorang tokoh yang sedang mencari makna hidup, tetapi juga menjalani perjalanan reflektif yang beririsan dengan kehidupan pribadinya. Pengalaman itulah yang membuat film ini terasa lebih personal, baik bagi sang aktor maupun cerita yang akan disajikan kepada penonton.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan