SUMUTPOS.CO–Gempuran Israel secara besar-besaran di jalur Gaza pada Selasa (18/3) dinihari menewaskan sedikitnya 330 orang tewas. Dilaporkan, para korban dinyatakan mayoritas wanita dan anak-anak.
Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan bahwa jumlah korban tewas terus meningkat. ”Setidaknya 330 kematian tercatat, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak Palestina,” kata Kepala Kementerian Kesehatan di Gaza, Mohammed Zaqut seperti yang dilansir dari Jawa Pos.
Sementara Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa sedikitnya 150 orang terluka akibat serangan udara dan penembakan artileri Israel. Warga Gaza yang selamat dari serangan Israel mengatakan mereka hidup dalam ketakutan dan teror.
“Mereka kembali melepaskan api neraka ke Gaza,” kata salah satu warga Gaza Ramez Alammarin. Dia menggambarkan ada mayat berserakan. Dokter pun sulit ditemukan sehingga orang yang di rumah sakit tidak bisa dirawat maksimal.
Serangan dilakukan Israel setelah perundingan gencatan senjata lanjutan dengan Hamas menemui kebuntuan. Israel menganggap kegagalan untuk memperpanjang gencatan senjata sebagai pelanggaran oleh Hamas dan menganggap mereka harus melanjutkan serangan untuk mencapai tujuan-tujuan militernya.
”Kami tidak akan berhenti bertempur selama para sandera kami belum dikembalikan dan semua tujuan perang kami tercapai,” kata Menteri Pertahanan Israel Benny Katz.
Dalam pernyataan melalui Telegram, Israel juga memerintahkan penutupan semua sekolah yang berada di dekat perbatasan Gaza sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan balasan.
Hamas Merespons
Sementara itu, Hamas mengecam keras keputusan Israel untuk melanjutkan perang dan menuduh Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menggunakan konflik ini sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah krisis domestik.
”Keputusan Netanyahu untuk memulai kembali perang adalah keputusan untuk mengorbankan tawanan pendudukan dan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka,” kata juru bicara Hamas dalam sebuah pernyataan.
Hamas juga memperingatkan, bahwa serangan yang berkelanjutan ini bisa menyebabkan kematian lebih banyak sandera yang masih hidup.
Konsultasi dengan AS sebelum Menyerang
Di sisi lain, pernyataan dari Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Israel telah berkonsultasi dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelum melancarkan serangan besar-besaran.
”Seperti yang telah diperjelas oleh Presiden Trump bahwa Hamas, Huthi, Iran, dan pihak-pihak lain yang berusaha meneror bukan hanya Israel, melainkan juga Amerika Serikat, akan menghadapi harga yang harus dibayar,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt. (lyn/dns/jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan