TEHERAN, Sumutpos.Jawapos.com– ’’Matilah Israel, Matilah Amerika!’’ Teriakan itu terdengar bersahut-sahutan di Lapangan Enghelab, Teheran, Sabtu(28/6).
Ribuan orang berkumpul di lapangan itu. Mereka menghadiri acara pemakaman kenegaraan yang diadakan untuk menghormati 60 tokoh Iran yang tewas dalam perang melawan Israel. Ke-60 tokoh itu terdiri atas para pemimpin militer, ilmuwan nuklir, dan pejabat tinggi lain.
Pemakaman kemarin disebut menjadi pemakaman terbesar sepanjang sejarah Iran. Sebanyak 60 peti mati dibalut kain merah-putih-hijau, warna bendera Iran, terlihat di Lapangan Enghelab. Namun, 60 peti itu hanya sebagian kecil dari jumlah korban meninggal yang mencapai 627 orang.
Ribuan warga berpakaian serba hitam memadati lapangan untuk menunjukkan rasa duka. Dilansir dari AFP, di antara korban yang dimakamkan adalah Jenderal Mohammad Bagheri. Dia adalah kepala staf Angkatan Bersenjata Iran. Bagheri meninggal bersama istri dan putrinya.
Upacara tersebut dihadiri tokoh-tokoh penting, antara lain Komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran Hossein Salami dan ilmuwan nuklir Mohammad Mehdi Tehranchi.
Salami bergabung dengan IRGC pada 1980 selama perang Iran-Iraq. Dia kemudian menjadi wakil komandan pada 2009. Salami dikenal karena kemampuannya sebagai orator.
Gholamali Rasyid, kepala Markas Pusat Khatam-al Anbiya IRGC, turut dimakamkan kemarin. Dia berperan sebagai koordinator operasi militer gabungan Iran. Rashid bertempur dalam perang tahun 1980-an dengan Iraq. Sebelumnya, dia menjabat wakil kepala staf Angkatan Bersenjata Iran.
Selanjutnya, ilmuwan nuklir yang menjadi korban Israel adalah Fereydoon Abbasi. Dia adalah kepala Organisasi Energi Atom Iran periode 2011–2013.
Sementara itu, pemerintah Iran menutup kantor-kantor pemerintahan dan menyediakan transportasi gratis untuk warga yang ingin hadir. Media massa Iran turut menggaungkan berita itu.
Suasana duka itu tak berlangsung dalam ketenangan. Dunia dikejutkan oleh pernyataan Trump yang mengklaim siap kembali mengebom Iran. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump bahkan menyebut dirinya tahu di mana Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersembunyi.
”Saya menyelamatkan hidupnya dari kematian yang memalukan dan dia tidak perlu berterima kasih. Tapi, dia seharusnya tidak menyebar kebohongan soal kemenangan atas Israel,” tulis Trump di platform Truth Social.
Kecaman langsung datang dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dia menyebut ucapan Trump tidak sopan.
”Jika Presiden Trump benar-benar menginginkan kesepakatan, dia seharusnya tidak memberikan pernyataan yang menunjukkan tidak hormat terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei,” tulis Araghchi di X seperti dilansir dari BBC.
Dia juga mengakui, bahwa situs nuklir Iran mengalami kerusakan serius akibat serangan Amerika beberapa waktu lalu. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan, bahwa serangan militer tidak akan bisa menghentikan program nuklir Iran secara menyeluruh.
”Anda hanya akan menyelesaikannya melalui kesepakatan diplomatik,” ujarnya. (lyn/oni/jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan