LONDON, Sumutpos.jawapos.com-Perpaduan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan kemajuan robotika kian menggeser fondasi dunia kerja global. Pemerintah Inggris menyadari, tanpa kebijakan antisipatif yang tepat, transformasi teknologi ini berpotensi menghapus jutaan lapangan kerja dalam satu dekade ke depan.
Menteri Negara Bidang Sains Inggris, Patrick Vallance, menegaskan bahwa dunia kini memasuki fase transformasional. Integrasi AI dan robotika, terutama melalui pengembangan robot humanoid, tidak sekadar menggantikan tenaga manusia, tetapi mengubah secara mendasar cara kerja itu sendiri.
“Dampaknya akan meningkatkan produktivitas, namun pada saat yang sama mengubah sifat pekerjaan manusia,” ujar Vallance, seperti dikutip The Guardian, Senin (19/1).
Menurutnya, sektor manufaktur dan logistik akan menjadi gelombang pertama yang terdampak. Aktivitas berulang di pabrik dan gudang—yang selama ini mengandalkan tenaga manusia—kian dialihkan ke sistem robotik otomatis.
“Itulah fase awal dari transformasi besar ini,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Wali Kota London Sadiq Khan. Dalam pidato tahunannya di Mansion House, ia memperingatkan bahwa AI berpotensi “mengantar dunia ke era baru pengangguran massal.”
Ancaman tersebut, kata Khan, tidak hanya menyasar pekerjaan manual, tetapi juga sektor jasa profesional seperti keuangan, hukum, pemasaran, hingga industri kreatif. Posisi pemula dan level junior disebut sebagai kelompok paling rentan tergeser oleh algoritma dan sistem otomatis.
Satgas AI dan Masa Depan Kerja
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kota London membentuk satuan tugas khusus AI dan masa depan dunia kerja. Satgas ini melibatkan unsur pemerintah, pelaku industri, serta perusahaan teknologi untuk merumuskan strategi adaptasi tenaga kerja.
Inisiatif tersebut juga mencakup program pelatihan AI gratis bagi warga London, dengan tujuan meningkatkan keterampilan dan daya saing tenaga kerja di tengah perubahan pasar yang semakin cepat.
Meski demikian, Vallance menekankan bahwa AI dan robotika tidak selalu identik dengan penghapusan peran manusia. Ia mencontohkan pemanfaatan teknologi robotik di bidang medis.
“Robot tidak sepenuhnya menggantikan ahli bedah, tetapi secara radikal memperbaiki cara mereka bekerja dan memungkinkan tindakan yang jauh lebih presisi,” jelasnya.
Sementara itu, analis dari Tony Blair Institute memperkirakan AI dapat memangkas 1 hingga 3 juta pekerjaan di sektor swasta Inggris. Namun, di saat bersamaan, teknologi ini juga menciptakan peluang baru melalui lonjakan produktivitas dan meningkatnya kebutuhan akan keterampilan tingkat lanjut.
Transformasi kini tak terelakkan. Tantangannya, sebagaimana disadari Inggris, adalah memastikan perubahan teknologi tidak meninggalkan manusia di belakang.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan