Ketegangan Global Memanas, Serangan AS–Israel ke Iran Berpotensi Picu Konflik Lebih Besar
Johan Panjaitan• Minggu, 1 Maret 2026 | 19:00 WIB
Lokasi yang diklaim sebagai tempat serangan mematikan Israel yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, provinsi Hormozgan di selatan Iran. (Screengrab/IRIB TV via AFP)
JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Ketegangan geopolitik global kembali memanas setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran memicu kecaman keras dari Teheran. Situasi ini bahkan dinilai berpotensi memperluas konflik hingga menyeret kekuatan besar dunia, termasuk Rusia.
Melalui pernyataan resmi, Kedutaan Besar Iran di Jakarta menegaskan bahwa serangan yang menargetkan sejumlah lokasi di Teheran dan kota lain merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negaranya. Iran menilai aksi tersebut bertentangan dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyebut operasi militer tersebut sebagai bentuk agresi nyata terhadap Republik Islam Iran.
“Serangan Amerika Serikat dan Israel melanggar Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB dan merupakan tindakan agresi terhadap Iran,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Sabtu (28/2).
Iran Balas Serangan
Menanggapi serangan tersebut, Iran menyatakan angkatan bersenjatanya melakukan aksi balasan sebagai bentuk pembelaan diri yang sah. Teheran merujuk pada Pasal 51 Piagam PBB yang memberi hak bagi negara untuk mempertahankan diri dari serangan militer.
Pemerintah Iran juga meminta Dewan Keamanan PBB segera mengambil langkah untuk menghentikan eskalasi konflik yang dinilai mengancam stabilitas kawasan dan perdamaian internasional.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sendiri terjadi pada 28 Februari 2026 dan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta infrastruktur strategis di beberapa kota, termasuk Teheran.
Langkah tersebut memicu serangkaian serangan balasan dari Iran dan meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap potensi perang regional di Timur Tengah.
Ancaman Perang Lebih Luas
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai eskalasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik global apabila negara-negara besar ikut terlibat.
Menurutnya, situasi dapat menjadi jauh lebih kompleks apabila Rusia memutuskan memberikan dukungan militer kepada Iran.
“Ini bisa menjadi jauh lebih parah karena Iran bukan negara yang terisolasi. Jika Rusia benar-benar masuk membantu, eskalasi konflik bisa meluas,” ujarnya.
Moskow sendiri telah mengecam keras serangan AS dan Israel terhadap Iran dan menyebutnya sebagai tindakan agresi terhadap negara berdaulat.
Indonesia Diminta Bersikap
Hikmahanto juga mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap diplomatik yang jelas terhadap konflik tersebut. Menurutnya, Indonesia perlu mengecam tindakan militer yang melanggar prinsip kedaulatan negara serta mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Selain itu, Indonesia juga diharapkan dapat mendorong digelarnya sidang darurat Dewan Keamanan PBB guna meredakan ketegangan dan mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.
“Indonesia dapat berperan aktif mendorong resolusi Majelis Umum PBB untuk mengutuk tindakan agresi dan menghentikan eskalasi konflik,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, banyak negara kini menyerukan de-eskalasi serta kembali ke jalur diplomasi. Tanpa langkah cepat dari komunitas internasional, konflik Timur Tengah berisiko berkembang menjadi krisis keamanan global yang jauh lebih besar.(jpg/han)