LONDON, Sumutpos.jawapos.com – Upaya negara-negara BRICS untuk mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam sistem keuangan global memasuki fase yang semakin konkret. Alih-alih langsung menciptakan mata uang bersama, kelompok ekonomi tersebut kini fokus membangun jaringan pembayaran lintas negara yang berpotensi menjadi alternatif bagi sistem berbasis dolar.
Perkembangan teknologi pembayaran digital dinilai menjadi katalis yang membuat agenda tersebut semakin realistis. Jika sebelumnya gagasan itu dianggap terlalu ambisius, kini sejumlah inisiatif mulai menunjukkan arah yang lebih jelas.
Ekonom Inggris Jim O'Neill, sosok yang pertama kali mempopulerkan istilah BRIC pada awal 2000-an, menilai perubahan tersebut merupakan perkembangan penting dalam lanskap ekonomi global.
"Sekitar 18 bulan lalu saya akan mengatakan ide negara-negara BRICS menciptakan kendaraan keuangan alternatif adalah fantasi. Kini situasinya mulai berubah," ujar O'Neill, seperti dikutip Reuters, Selasa (7/7).
Bukan Sekadar Mata Uang Baru
Selama bertahun-tahun, dolar AS menjadi mata uang cadangan utama dunia sekaligus alat pembayaran dominan dalam perdagangan internasional. Posisi tersebut memberi Amerika Serikat pengaruh besar terhadap arus perdagangan dan sistem keuangan global.
Namun, semakin eratnya hubungan ekonomi di antara negara-negara BRICS mendorong munculnya berbagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar, terutama dalam transaksi antaranggota.
Meski kerap dikaitkan dengan rencana pembentukan mata uang baru, fokus BRICS saat ini lebih diarahkan pada pembangunan infrastruktur pembayaran yang memungkinkan transaksi dilakukan menggunakan mata uang masing-masing negara maupun teknologi pembayaran digital.
De-Dolarisasi Masih Tahap Awal
O'Neill mengingatkan bahwa proses de-dolarisasi tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Menurutnya, dominasi dolar masih sangat kuat, baik sebagai mata uang perdagangan internasional maupun sebagai aset cadangan devisa bank sentral di berbagai negara.
Baca Juga: Diduga Rangkap Profesi sebagai Wartawan, Anggota DPRD Nias Selatan Dilaporkan ke BKD
Ia menilai pengaruh BRICS sejauh ini lebih besar dari sisi simbolis dibandingkan perubahan nyata terhadap sistem keuangan dunia.
"Sampai sekarang, pencapaian paling konkret BRICS masih terbatas, selain keberhasilan membentuk New Development Bank sebagai lembaga pembiayaan bersama," katanya.
BRICS Pay hingga Mata Uang Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, BRICS mulai mengembangkan sejumlah instrumen pembayaran lintas negara sebagai fondasi sistem keuangan alternatif.
Salah satu yang paling banyak mendapat perhatian adalah BRICS Pay, platform pembayaran yang dirancang untuk mempermudah transaksi antarnegara anggota tanpa bergantung pada sistem pembayaran internasional yang didominasi dolar.
Selain itu, BRICS juga mendorong integrasi berbagai sistem pembayaran nasional, seperti UPI milik India, CIPS dari Tiongkok, dan PIX yang dikembangkan Brasil.
Kelompok tersebut juga terus membahas pemanfaatan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital bank sentral sebagai sarana transaksi lintas batas yang lebih cepat, efisien, dan berbiaya rendah.
Meski belum menjadi ancaman langsung bagi dominasi dolar AS, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa BRICS tengah membangun fondasi jangka panjang menuju sistem pembayaran internasional yang lebih beragam dan tidak lagi bergantung pada satu mata uang utama.(
Editor : Johan Panjaitan