Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

JEC Hadirkan One-Stop Service Kesehatan Mata Anak Pertama di Indonesia

Johan Panjaitan • Selasa, 15 April 2025 | 12:20 WIB
Dr. Gusti G Suardana, SpM(K), Ketua Servis Pediatric Ophthalmology and Strabismus JEC Eye Hospitals & Clinics pada Press Confrance One Stop Service Perawatan Mata Anak & Mata Juling, Jakarta
Dr. Gusti G Suardana, SpM(K), Ketua Servis Pediatric Ophthalmology and Strabismus JEC Eye Hospitals & Clinics pada Press Confrance One Stop Service Perawatan Mata Anak & Mata Juling, Jakarta


JAKARTA, SUMUTPOS.CO-Gangguan mata tidak mengenal usia, International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) mencatat, 90 juta anak dan remaja di seluruh dunia (usia 0-19 tahun) hidup dengan gangguan penglihatan. Sementara di Indonesia, menurut Kemenkes, prevalensi gangguan penglihatan pada anak usia sekolah 5-19 tahun diperkirakan mencapai 10 persen.

Memahami urgensi situasi ini, JEC Eye Hospitals and Clinics, eye care leader di Indonesia, kembali memperkenalkan Children's Eye & Strabismus Center (CESC) di RS Mata JEC @ Kedoya pada Selasa (15/4/2025).

Dengan fasilitas yang diperbarui, pusat layanan ini menjadi one-stop service kesehatan mata anak pertama di Indonesia, menawarkan solusi terpadu dan komprehensif untuk penanganan berbagai gangguan penglihatan sejak bayi hingga remaja.

Dr. Hasiana Lumban Gaol, SpM, Dokter Subspesialis Pediatric Ophthalmology and Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, mengatakan "Umumnya, gangguan penglihatan pada anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko seperti kelahiran prematur, riwayat keluarga, riwayat kehamilan, trauma, dan nutrisi. Akan tetapi, dengan kemajuan zaman dan perubahan gaya hidup, anak-anak juga rentan terhadap faktor risiko lain yang dapat mengancam kesehatan mata, seperti penggunaan gawal berlebih serta kurangnya paparan cahaya alami dan minimnya aktivitas di luar ruangan. Pemeriksaan dini rutin, termasuk evaluasi berkala per 6-12 bulan sekali pada anak usia sekolah, perlu dilaksanakan secara disiplin guna mengenali gangguan penglihatan sejak awal dan memberikan tata laksana yang sesuai."ungkapnya.

Penanganan gangguan mata pada anak tentu tak bisa lepas dari keterlibatan orang-orang terdekat pasien. Hasiana melanjutkan, dukungan keluarga pada pasien anak sangat krusial, terutama pada kasus-kasus gangguan.

Mata yang berat dan kronis. JEC CESC juga melengkapi layanan Psikologi bagi anak dan orang tua untuk membantu pasien anak-anak dengan gangguan penglihatan beradaptasi secara emosional dan sosial."

Dr. Gusti G Suardana, SpM(K), Ketua Servis Pediatric Ophthalmology and Strabismus JEC Eye Hospitals & Clinics, menyampaikan, "Perawatan kesehatan mata sejak dini merupakan investasi untuk masa depan anak. Gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dan tertangani dengan tepat pada masa balita dapat berdampak jangka panjang. Tidak hanya pada perkembangan penglihatan, tetapi juga pada kemampuan belajar, sosialisasi, dan kualitas hidup anak hingga dewasa. Deteksi dan intervensi dini sangat krusial karena sistem penglihatan anak berkembang pesat hingga usia 8 tahun, dan penanganan setelah periode kritis ini memberikan hasil kurang baik dan seringkali bersifat permanen."

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mendapati 0,6 persen anak Indonesia berusia di atas 1 tahun ternyata mengidap disabilitas penglihatan, dari persentase tersebut, 11,7 persen bahkan perlu menggunakan alat bantu lihat.

Penyebab utamanya mencakup kelainan refraksi yang tidak dikoreksi, retinopati prematuritas, katarak, kelainan okular bawaan, jaringan parut pada kornea, dan gangguan penglihatan serebral.

Jika tidak ditangani, kondisi-kondisi tersebut dapat menghambat tumbuh kembang anak secara signifikan.

Dr. Gusti G Suardana, SpM(K), menambahkan, "JEC meyakini bahwa perawatan mata anak membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terintegrasi, dan ramah anak. Proses pemeriksaan, diagnosis hingga terapi pada anak tidak bisa disamakan dengan pasien dewasa. Banyak aspek yang perlu diperhatikan: mulai dari kenyamanan anak, keterlibatan orang tua, hingga kesiapan fasilitas medis dan tenaga profesional yang terlatih khusus. Karenanya, JEC CESC kini hadir sebagai one-stop service, yang memungkinkan pasien anak mendapatkan penanganan mata secara komprehensif-mulai dari pemeriksaan awal, diagnosis, hingga terapi lanjutan-semua dalam satu atap, tonpo berpindah lokasi".


Sebagai pusat layanan mata anak terdepan, CESC JEC diperkuat teknologi diagnostik canggih, meliputi RetCam Screening untuk deteksi dini Retinopati Prematuritas (ROP) pada bayi prematur, Autorefraktometer Pediatrik.

Untuk pemeriksaan gangguan refraksi tanpa memerlukan respons verbal anak, dan Synoptophore Test untuk mengukur sudut strabismus (mata juling) guna penanganan yang lebih akurat.


Sejak beroperasi pada 2012, JEC CESC kini diperkuat enam dokter mata dengan berbagai subspesialisasi dan dua psikolog anak, serta telah menangani lebih dari 24 ribu pasien anak dengan mayoritas kasus berupa gangguan refraksi, ambliopia, dan strabismus.

"Melalui peningkatan kualitas layanan di JEC Children's Eye & Strabismus Center, kami berharap semakin banyak anak di Indonesia yang mendapatkan deteksi dan penanganan gangguan penglihatan secara tepat sejak dini. Kesehatan mata bukan hanya soal melihat, tetapi juga berkaitan erat dengan proses belajar, tumbuh kembang, dan kualitas hidup anak secara keseluruhan," tutup dr. Gusti. (ari/han)

Editor : Johan Panjaitan
#jec eye hospital & clinics