sumutpos.jawapos.com – Banyak orang menganggap gusi berdarah, bengkak, atau nyeri hanya sebagai masalah ringan yang akan sembuh dengan sendirinya. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda penyakit gusi yang berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (5/6/2026), data menunjukkan sekitar 74 persen masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan gusi. Sayangnya, sebagian besar kasus tidak mendapatkan penanganan yang tepat karena sering disalahartikan sebagai sakit gigi biasa.
Dokter gigi menjelaskan bahwa penyakit gusi umumnya diawali oleh penumpukan plak dan bakteri di sekitar gigi. Jika tidak dibersihkan secara rutin, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi radang gusi atau gingivitis yang ditandai dengan gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah saat menyikat gigi.
Baca Juga: Alfamidi Salurkan 1.800 Butir Telur untuk Dukung Program GENTING di Asahan
Pada tahap yang lebih lanjut, infeksi dapat berkembang menjadi periodontitis, yaitu peradangan serius yang merusak jaringan penyangga gigi dan tulang rahang. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko gigi goyang hingga tanggal, tetapi juga berdampak pada kesehatan organ lain.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penyakit gusi kronis dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Peradangan yang terjadi di rongga mulut diduga dapat memicu respons peradangan di seluruh tubuh dan memengaruhi pembuluh darah.
Bakteri penyebab penyakit gusi juga berpotensi masuk ke aliran darah dan berkontribusi terhadap terbentuknya plak pada pembuluh darah. Akibatnya, risiko gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner dan stroke dapat meningkat.
Selain penyakit jantung, kesehatan gusi yang buruk juga dikaitkan dengan diabetes, komplikasi kehamilan, hingga gangguan pernapasan. Karena itu, menjaga kesehatan mulut tidak hanya penting untuk mempertahankan senyum yang sehat, tetapi juga untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Para ahli menyarankan masyarakat untuk menyikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, membersihkan sela-sela gigi, serta rutin memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi setiap enam bulan sekali.
Apabila muncul gejala seperti gusi berdarah, bengkak, nyeri, atau bau mulut yang tidak kunjung hilang, masyarakat dianjurkan segera berkonsultasi dengan dokter gigi agar mendapatkan penanganan sejak dini dan terhindar dari komplikasi yang lebih serius.
Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gusi dinilai penting mengingat dampaknya yang tidak hanya terbatas pada rongga mulut, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas kesehatan secara keseluruhan.(lin)
Editor : Redaksi