Jangan Sampai Lupa, Segera Ganti Sikat Gigi jika Sudah dalam Kondisi Ini

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 23:00 WIB
Ilustrasi, alat sikat gigi perlu diganti ketika mencapai kondisi tertentu. (pexels.com)
Ilustrasi, alat sikat gigi perlu diganti ketika mencapai kondisi tertentu. (pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Mengganti sikat gigi secara rutin adalah harus jika tak ingin menjadi tempat menumpuknya kuman dan bakteri.

Jadi, mengganti sikat gig bukan hanya karena alat itu membuat proses membersihkan gigi menjadi kurang efektif 

Melansir Verywell Health, Senin (31/8/2026), sikat gigi idealnya diganti setiap tiga hingga empat bulan sekali. 

Sikat gigi yang digunakan terlalu lama akan mengalami kerusakan pada bulu sikat sehingga tidak lagi mampu membersihkan plak secara optimal.

Bulu sikat yang mulai melebar, melengkung, atau terasa terlalu lembut menjadi tanda paling umum bahwa sikat gigi sudah waktunya diganti.

Tak sedikit orang menunggu hingga warna bulu sikat memudar sebelum menggantinya. Padahal, kondisi fisik bulu sikat dinilai jauh lebih penting dibanding warna atau usia sikat gigi itu sendiri.

Baca Juga: Senormal Apakah Frekuensi BAK atau BAB dalam Sehari? Ini Ukurannya

The American Dental Association juga merekomendasikan penggantian sikat gigi minimal setiap tiga hingga empat bulan sekali.

Namun, dalam beberapa kondisi, sikat gigi sebaiknya diganti lebih cepat tanpa perlu menunggu hingga berbulan-bulan.

Kondisi yang dimaksud antara lain bulu sikat terlihat rusak, sedang sakit, sikat gigi jatuh ke toilet, digigit hewan peliharaan, da terlalu lama disimpan di dalam koper.

Pun, kualitas sikat gigi lebih dipengaruhi oleh cara seseorang menyikat gigi dibanding sekadar lamanya penggunaan.

Orang yang menyikat gigi terlalu keras biasanya membuat bulu sikat lebih cepat rusak dan melebar. 

Baca Juga: Maulid Nabi 1448 H di Polres Labusel, Kapolres Tekankan Akhlak dan Integritas dalam Pengabdian

Akibatnya, sikat gigi perlu diganti lebih cepat dibanding orang yang menyikat gigi secara perlahan.

Sikat gigi yang dipakai setiap hari juga rentan menjadi tempat berkembangnya bakteri. 

Mulut manusia secara alami dipenuhi berbagai jenis bakteri, baik bakteri baik maupun bakteri jahat. 

Sebagian bakteri tersebut dapat menempel pada bulu sikat dan bertahan meski sudah dibilas setelah digunakan.

Karena itu, membilas sikat gigi dengan air saja dinilai belum cukup untuk menghilangkan seluruh kuman yang menempel.

Risiko penumpukan bakteri juga meningkat jika sikat gigi disimpan dalam kondisi lembap atau tertutup rapat sehingga sulit mengering.

Baca Juga: Erupsi Gunung Sinabung Ganggu Penerbangan, 51 Jadwal dari dan Menuju Kualanamu Batal

Selain itu, sikat gigi yang sudah lama digunakan berpotensi menyimpan sisa pasta gigi, air liur, hingga kotoran mikroskopis yang tidak terlihat.

Bulu sikat yang rusak membuat proses membersihkan plak dan sisa makanan menjadi kurang maksimal. 

Jika plak terus menumpuk, risiko gigi berlubang, radang gusi, hingga bau mulut dapat meningkat.

Tak hanya itu, sikat gigi yang terlalu aus juga bisa melukai gusi dan mengikis enamel atau lapisan pelindung gigi jika tetap digunakan dalam jangka panjang.

Enamel merupakan lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi gigi dari kerusakan. Jika enamel terkikis, gigi menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami masalah kesehatan mulut.

Pada beberapa kasus, penggunaan sikat gigi yang sudah rusak juga dapat memicu gusi turun atau gum recession, yakni kondisi ketika jaringan gusi perlahan menjauh dari permukaan gigi.(lin)

Editor : Redaksi
Gigi Sehat Kesehatan Mulut tips kesehatan sikat gigi kesehatan gigi