sumutpos.jawapos.com – Asupan gizi selama kehamilan menjadi salah satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Kekurangan nutrisi tertentu dapat berdampak terhadap kondisi tubuh ibu, termasuk kesiapan organ menghadapi proses persalinan.
Melansir Instagram @lambegosiip, Senin (31/8/2026), hal itu diungkapkan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Amir Fahad Sp.OG, saat membagikan pengalaman menangani seorang pasien yang mengalami kondisi tidak biasa ketika menjalani operasi persalinan.
Dalam kasus tersebut, dr. Amir menemukan kondisi otot rahim pasien yang sangat rapuh saat dilakukan tindakan pembedahan. Padahal, secara umum proses persalinan dengan riwayat operasi sebelumnya dinilai masih dalam kategori kasus yang sering ditemui.
Baca Juga: Jangan Sampai Lupa, Segera Ganti Sikat Gigi jika Sudah dalam Kondisi Ini
“Sebenarnya kasusnya standar saja, biasa saja. Tapi setelah dilakukan pembedahan, dibuka bagian kulit, otot, problem mulai muncul. Ototnya mulai robek-robek tidak jelas, sehingga terjadi perdarahan karena jaringan mudah rapuh,” ujar dr. Amir dalam unggahan videonya.
Kondisi tersebut membuat proses penanganan menjadi lebih sulit. Setelah bayi berhasil dilahirkan, dokter harus menghadapi tantangan saat melakukan penjahitan karena jaringan rahim terus mengalami perdarahan.
Menurut dr. Amir, setiap kali dilakukan penjahitan, bagian otot rahim kembali mengeluarkan darah. Kondisi itu terjadi hingga bagian atas rahim, meskipun perlengketan akibat operasi sebelumnya tidak tergolong berat.
Baca Juga: Senormal Apakah Frekuensi BAK atau BAB dalam Sehari? Ini Ukurannya
“Saat mulai penjahitan, otot rahimnya saat dijahit rapuh dan berdarah. Sampai ke atas pun kondisinya seperti itu lagi,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, dr. Amir kemudian menggali lebih jauh mengenai kebiasaan makan pasien selama masa kehamilan maupun sebelum mengandung.
Dari hasil percakapan, diketahui pasien tersebut memiliki pola makan yang kurang mendukung kebutuhan nutrisi ibu hamil. Ia lebih sering mengonsumsi makanan ringan dan jajanan seperti cilok, pentol, cireng, hingga seblak, sementara asupan protein hewani sangat minim.
Pasien tersebut juga mengaku tidak mengonsumsi suplemen yang sebelumnya diberikan oleh dokter kandungan.
Baca Juga: Erupsi Gunung Sinabung Ganggu Penerbangan, 51 Jadwal dari dan Menuju Kualanamu Batal
Dr. Amir kemudian mengingatkan pentingnya pemenuhan nutrisi selama masa kehamilan. Menurutnya, ibu hamil membutuhkan asupan protein yang cukup untuk membantu pembentukan jaringan tubuh dan menjaga kondisi kesehatan selama proses kehamilan hingga persalinan.
Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging merah menjadi salah satu sumber nutrisi yang berperan dalam mendukung regenerasi jaringan serta proses pemulihan setelah melahirkan.
Usai persalinan, pasien tersebut juga dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi protein hewani bersama suaminya guna membantu proses penyembuhan.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kehamilan bukan hanya soal menjaga kesehatan bayi, tetapi juga memastikan tubuh ibu mendapatkan nutrisi yang cukup untuk menghadapi perubahan besar selama sembilan bulan hingga proses persalinan.
Baca Juga: Erupsi Gunung Sinabung Ganggu Penerbangan, 51 Jadwal dari dan Menuju Kualanamu Batal
Di media sosial, kisah ini turut memicu perhatian warganet. Sejumlah komentar menyoroti pentingnya edukasi mengenai pola makan ibu hamil yang selama ini masih sering dianggap sepele. Ada pula yang membagikan pengalaman pribadi tentang perjuangan memenuhi kebutuhan gizi selama masa kehamilan, terutama di tengah keterbatasan informasi dan kebiasaan makan keluarga.
Meski demikian, kondisi medis setiap ibu hamil dapat berbeda. Para ahli kesehatan tetap mengingatkan agar ibu hamil berkonsultasi dengan tenaga medis terkait kebutuhan nutrisi, suplemen, serta pemeriksaan rutin selama kehamilan.(lin)
Editor : Redaksi