Jenazah balita 2,5 tahun, M Althir pakai, yang dibunuh ibunya Pretty Juliana Ningsih Hasibuan, dengan pisau dapur, di Jalan Besar Delitua, Desa Suka Makmur, Deliserdang, Minggu (15/1) siang.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pembunuhan anak sendiri oleh Pretty Juliana Ningsih Hasibuan (32), menurut Wakil Ketua RT V, Muliadi (38), karena Pretty merasa melihat sosok bayangan perampok yang masuk ke rumah abangnya, di mana ia menumpang.
Lantas, pelaku mengambil dua pisau dapur dan langsung menghujamkannya berkali-kali ke tubuh anak kandungnya M Althir, yang masih balita, usia 2 tahun 6 bulan. Peristiwa itu terjadi di rumah abang kandung pelaku, Sutan Hasibuan (39) di Jalan Besar Delitua, Gang Dahlia Ujung, Lingkungan IV, Desa Suka Makmur, Deliserdang, Minggu (15/1) siang.
Kata Mulyani, Pretty sudah setahun tinggal bersama abang kandungnya, Sutan. "Kita sempat bicara dengan pelaku (Pretty) dan mengatakan, dia sudah menangkap perampok yang memasuki rumah abangnya," kata Muliadi.
Muliadi menambahkan, kalau Pretty dikenalnya seorang ibu yang tak banyak bicara, sejak menetap di rumah Sutan. Bahkan informasinya, Pretty juga kerap dibawa keluarganya untuk berobat ke beberapa rumah sakit.
Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Delitua mengatakan pihaknya sudah mengevakuasi jasad korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumut untuk dilakukan otopsi. Untuk sementara, sekira ada 17 tusukan terdapat di tubuh korban, yang kebanyakan di bagian perut hingga mengakibatkan usus terburai. "Kita masih dalami motifnya, tapi menurut saksi dan beberapa warga, tersangka depresi karena ditinggal suami," pungkasnya.
Pretty Juliana Ningsih Hasibuan, yang membunuh anaknya M Althir yang masih balita, pakai pisau dapur, di Jalan Besar Delitua, Desa Suka Makmur, Deliserdang, Minggu (15/1) siang.
BALAS DENDAM TERHADAP PASANGAN
Aksi keji yang dilakoni Pretty dengan menghabisi nyawa anaknya, dimungkinkan karena faktor balas dendam. Menurut Psikolog, Irna Minauli, kasus pembunuhan yang dilakukan Prety kemungkinan karena adanya faktor balas dendam terhadap pasangannya.
"Mereka yang sebenarnya marah pada pasangannya, namun kemudian mengarahkan kemarahannya pada sang anak. Dengan membunuh anaknya, seolah ia ingin menghukum pasangannya," kata Irna, Minggu (15/1) menyikapi aksi Pretty saat dihubungi Sumut Pos.
Akan tetapi, sambung Irna, penyebab yang paling banyak adalah adanya gangguan jiwa berat yang dialami oleh orangtua, khususnya seorang ibu. "Gangguan jiwa yang umum menyertai adalah, skizofrenia dan depresi. Untuk itu, tentu perlu pemeriksaan yang lebih mendalam," kata Irna.
Direktur Minauli Cosluting Layanan Psikologi ini menambahkan, kasus pembunuhan yang dilakukan orangtua terhadap anak, sering kali sifatnya komplek dan juga banyak faktor yang mempengaruhi. Menurut Irna, kasus pembunuhan yang dilakukan orangtua terhadap anak dikenal sebagai filicide.
Ada beberapa istilah lain yang menyerupai. Adalah, infanticie, ketika yang dibunuh adalahh anak yang baru dilahirkan. "Misalnya karena alasan altruistik, di mana ibu membunuh anaknya karena alasan ingin menyelamatkan masa depan anaknya.
Alasan lain, adalah anak yang tidak diinginkan (unwanted child), biasanya terjadi pada kasus kehamilah yang tidak dikehendaki," kata dia.
Sebelum mengakhiri, Irna menyebut, ada beberapa kasus kekerasan terhadap anak. Misal, anak-anak yang rewel atau anak dengan kebutuhan khusus. Umumnya, kata dia, itu menjadi lebih rentan menjadi korban kekerasan.
"Banyak orangtua yang kehilangan kesabaran dalam mengatasi masalah yang dihadapi anaknya," pungkas Irna. (ted/han) Editor : Admin-1 Sumut Pos