SUMUTPOS.CO - Nama Glodok kembali mencuat akibat kebakaran yang terjadi di Glodok Plaza, Rabu (15/1/2025) malam.
Ternyata, daerah ini dulunya dikenal sebagai kawasan pecinan pada masa Hindia Belanda.
Berikut sejarah Glodok yang dikutip dari berbagai sumber.
Di buku Toponimi Jakarta Barat, ada kutipan seorang penulis novel bergaya humor asal Amsterdam, Justus van Maurik yang menggambarkan Glodok adalah Monaco dari Hindia-Belanda, minus Montecarlo. Maurik menulis pengumpamaan itu dalam bukunya Indrukken van een Tòtòk terbitan Den Haag 1965.
Alkisah, pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, perusahaan dagang Belanda yang dibentuk untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Asia, khususnya di Nusantara, kawasan Glodok dikenal dengan pancuran air yang menjadi sumber utama bagi pelaut dan pedagang untuk mengisi perbekalan air minum. Pancuran tersebut terletak di sekitar Jalan Pancoran saat ini, dekat Kali Besar. Kala itu, pancuran air ini tidak hanya menjadi tempat strategis untuk logistik, tetapi juga untuk transaksi perdagangan.
Namun, tidak semua aktivitas berjalan mulus. Konflik kerap terjadi antara pelaut asing dan pedagang lokal yang memperebutkan akses ke pancuran air. Bahkan, kawasan ini dikenal sebagai pusat penyelundupan rempah-rempah oleh pedagang mancanegara yang memanfaatkan keramaian untuk menghindari pengawasan VOC.
Pada tahun 1740, tragedi besar menimpa komunitas Tionghoa di Batavia. Menurut sejarahnya, ribuan etnis Tionghoa dibantai, dan mereka yang selamat dipindahkan oleh VOC ke luar tembok kota, termasuk ke wilayah Glodok. Kawasan ini kemudian menjadi Chineesche Kamp atau kampung Cina, sebagaimana tercatat dalam peta tahun 1810.
Nama Glodok sendiri dipercaya sudah ada sebelum tragedi 1740, meski bentuknya belum menjadi pemukiman besar. Transformasi kata "grojok" menjadi "glodok" diduga akibat adaptasi bahasa, di mana pengucapan "r" oleh komunitas Tionghoa mengalami perubahan menjadi "l". Dalam waktu singkat, istilah ini melekat menjadi nama resmi kawasan.
Seiring waktu, Glodok berkembang pesat sebagai kawasan perdagangan. Kanal-kanal yang dulunya menjadi jalur distribusi air perlahan kehilangan fungsi. Sebagai contoh, Sirihgracht berubah menjadi Jalan Tongkangan, sementara Areeksgracht kini dikenal sebagai Perniagaan Timur. Jejak sejarah Glodok juga tertanam dalam nama-nama jalan seperti Gang Kalimati, yang diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap korban tragedi 1740.
Blandongan, yang merupakan bagian dari Glodok, menjadi saksi akulturasi budaya Tionghoa. Nama Blandongan berasal dari istilah Hokkien "landung," yang berarti jalan menikung, menggambarkan topografi kawasan tersebut. Hingga kini, Glodok tetap menjadi simbol budaya Tionghoa di Jakarta, dengan keberadaan pasar tradisional, kuil, dan berbagai bangunan bersejarah.
Baca Juga: Kadishub Sumut Focal Point Program Transportasi Rendah Karbon yang Inklusi di Jakarta
Glodok Plaza Bekas Penjara Tionghoa
Perlu diketahui, Glodok Plaza pernah menjadi lokasi penjara bagi warga Tionghoa yang memberontak. Penjara tersebut dibangun tahun 1743 lantaran di masa itu ada pemberontakan. Maklum, pada eranya etnis Tionghoa adalah bagian dari warga Batavia yang ditakuti Belanda.
Seiring berjalannya waktu, penjara Glodok juga dipakai untuk memenjarakan mereka yang dijatuhi hukuman mati dan tempat penitipan narapidana yang akan dipindah ke penjara lain di Jawa dan luar Jawa. Bahkan penjara tersebut pernah menjadi tempat hukuman bagi sejumlah pejabat seperti Bung Hatta.
Inilah yang menjadi awal kehidupan Hatta di penjara. Sesudah penjara Glodok, Hatta diasingkan di Boven Digul, dan sesudah itu, dia dipindahkan ke Pulau Banda Neira.
Penggambaran menyeramkannya penjara Glodok bisa dilihat dari tulisan pejuang Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Urip Santoso. Urip saat itu dijebloskan ke penjara setelah diciduk dari kereta api khusus pada Juli 1947.
Mempunyai masa kelam, saat ini Glodok berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai. Kawasan Plaza Glodok dibangun pada tahun 1977 sebagai pioneer pusat perbelanjaan modern di Jakarta.
Gedung perbelanjaan berlantai delapan ini ditempati para pedagang dan berbagai bidang usaha khususnya alat-alat elektronik. Berbagai barang elektronik, peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan sehari-hari dapat ditemukan di Plaza Glodok.
Glodok Plaza bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol perjalanan panjang Jakarta. Dari penjara kolonial hingga pusat perbelanjaan modern, kawasan ini mencerminkan dinamika perubahan zaman sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga sejarah. (bbs/ram)
Sejarah panjang Glodok yang merupakan kawasan perniagaan di Jakarta dan juga dikenal sebagai kawasan pecinan.
Foto 1:
Foto2: Suasana Glodok 1872. (Foto: buku Toponimi Jakarta Barat/geheugenvannederland.nl)
Editor : Redaksi