STABAT, SUMUT POS- Insiden salah tangkap yang dilakukan oknum anggota polisi dari Polrestabes Medan terhadap Ketua Partai Nasdem Sumut, Iskandar ST, berbuntut panjang.
Ribuan kader Barisan Pendukung Ricky Anthony (BAPERA) memberi ultimatum kepada Polrestabes Medan dengan menyatakan siap kepung markas komando mereka jika tidak ada permohonan maaf dari Korps Tribarata tersebut.
“Kita meminta kepada Kapolda Sumut untuk memberi klarifikasi secara detil peristiwa salah tangkap terhadap Ketua DPW NasDem Sumut Pak Iskandar ST. Harus meminta maaf dan diumumkan secara terbuka kepada publik,” tegas Legianto, Koordinator BAPERA, Jumat (17/10) pagi.
Dia juga mendesak, agar oknum polisi yang terlibat dalam persoalan itu untuk segera dicopot. Jika tidak, ribuan massa BAPERA akan mengepung Mako Polrestabes Medan dan menggelar aksi di sana.
Bagi kader BAPERA, kejadian tersebut tak dapat dianggap hanya sekadar kesalahan biasa. Ketidakprofesionalan oknum polisi, harus dipertanggungjawabkan di hadapan publik.
Sehingga, masyarakat dapat mengetahuinya dengan terang dan transparan.
"Tidak masuk akal saat mau menangkap orang, tapi oknum polisi tak tau siapa yang akan ditangkap. Jangan sampai ada unsur kesengajaan oknum yang sengaja mempermalukan pimpinan kami. Harus ada yang bertanggungjawab,” ketus Legianto.
Semua oknum yang terlibat, harus diganjar sanksi tegas. Hal ini harus menjadi pelajaran dan agar tidak terulang kembali, sehingga tidak ada korban lain, khususnya kepada masyarakat awam.
Pimpinan DPRD Sumut, Ricky Anthony juga mengecam hal tersebut. Dia menilai, oknum polisi yang melakukan aksi itu tidak profesional dan menimbulkan kerugian bagi warga negara yang tak bersalah.
“Oknum Polisi yang terlibat itu tidak profesional. Mereka harus memberikan klarifikasi dan minta maaf secara terbuka. Polri harus meluruskan maslah ini, karena Ketum KOMBAT, pak Iskandar ST jadi korban salah tangkap,” tegas Ketua DPW KOMBAT Sumut tersebut.
Sejatinya, kata Ricky, polisi melakukan penyelidikan dengan profesional sebelum melakukan penangkapan. Itu dilakukan agar tidak ada korban salah tangkap dan tidak merugikan orang lain.
“Nangkap orang di tempat umum jangan seperti cara-cara preman. Informasinya, penerbangan saat itu pun sampai delay (terlambat) karena ulah mereka (oknum polisi). Ini harus ditindaklanjuti oleh Institusi Polri,” ketus politisi yang biasa disapa RA ini.
Ketua DPW NasDem Sumut, Iskandar ST jadi korban salah tangkap terduga pelaku judi online (judol), Rabu (15/10/2025) malam. Ia, dipaksa turun dari Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 193 yang ditumpanginya oleh sekelompok oknum polisi dari Polrestabes Medan.
Ketua Umum Komando Bela Tanah Air (KOMBAT) ini sempat diperiksa sementara di dalam kabin pesawat. Padahal, saat itu pesawat akan segera lepas landas dengan rute penerbangan Kualanamu-Soekarno Hatta.
Iskandar ST dalam pesan tertulisnya membenarkan hal tersebut. Dia sempat diamankan sementara di dalam pesawat. Jadwal penerbangan pukul 19.25 pun tertunda alias delay. Padahal, semua penumpang sudah berada di dalam pesawat.
“Penumpang sudah di dalam pesawat dan sudah siap lepas landas. Tiba-tiba datang sejumlah polisi berpakaian preman bersama Avsec Bandara Kualanamu dan kru pesawat. Mereka (polisi) mau nangkap pelaku judi online,” beber Iskandar.
Kebetulan, kata Iskandar, nama target polisi tersebut sama seperti namanya. Jadi, gerombolan polisi itu diduga kuat telah melakukan salah tangkap. Kesannya, personel aparat keamanan tersebut tidak profesional dalam menjalankan tugasnya.
Setelah menyadari perbuatannya salah, beberapa orang oknum polisi langsung bergegas pergi. Bahkan, oknum yang berpakaian preman tak ada yang mengaku sebagai polisi. Mirisnya, gerombolan yang sudah buat riuh di dalam kabin pesawat itu sudah pun mengantongi surat penangkapan. (ted/ram)
Editor : Juli Rambe