Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Cerita Dosen Universitas Pembangunan Panca Budi Hamdani, S.T, M.T saat Terjebak Banjir Aceh: Bertahan Lima Hari dalam Box Container Truk

Redaksi • Senin, 8 Desember 2025 | 10:31 WIB
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pembangunan Panca Budi Medan Hamdani, S.T, M.T (Cand Dr) yang bertahan lima hari dalam box container truk saat terjebak kepungan banjir di Aceh.
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pembangunan Panca Budi Medan Hamdani, S.T, M.T (Cand Dr) yang bertahan lima hari dalam box container truk saat terjebak kepungan banjir di Aceh.

Musibah banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumut dan Sumbar sejak 26 November 2025 lalu menyisakan banyak duka, kisah sedih dan haru tentang perjuangan para korban dalam menyelamatkan diri dan bertahan di tengah ketakutan.

Salah satunya dialami Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pembangunan Panca Budi Medan Hamdani, S.T, M.T (Cand Dr) yang bertahan lima hari dalam box container truk yang akhirnya selamat membawanya kembali ke Medan dari perjalanan mencekam menerobos banjir Aceh – Sumut. Bagimana kisahnya ?

Hamdani tidak pernah menyangka perjalanannya dari Medan menuju Banda Aceh Selasa malam (25/11/2025) lalu akan menjadi malam malam yang panjang. Saat hendak naik bus dari pool di Jalan Gagak Hitam Ringroad Medan malam itu, sebenarnya ia sudah diliputi keraguan. Apalagi saat itu gerimis sudah mulai membasahi Kota Medan. Seorang sahabatnya sempat mengingatkan agar berhati-hati karena cuaca ekstrem.

Beberapa tahun belakangan ini, Hamdani memang rutin melintasi rute Medan-Banda Aceh untuk mengikuti perkuliahan di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Saat ini ia tengah mempersiapkan disertasi untuk syarat meraih gelar Doktor di bidangTeknik. Malam itu keberangkatanya dalam rangka untuk mengikuti seminar di Program-Studinya yang dijadwalkan pada (26/11/2025) .

‘’Syarat untuk mengikuti seminar hasilkan mesti mengikuti berapa kali seminar di Program Studi, dan juga berniat menghadiri wisuda rekannya sesama mahasiswa doktor Ilmu Teknik (27/11/2025) di Banda Aceh’’ujar Hamdani kepada SumutPos di kediamannya (2/12/2025). Hamdani pun bersama seorang rekannya yang juga dosen di Panca Budi berangkat malam itu.

Sebelum bus melaju, ia sempat membeli bolu kukus yang dimaksudkan untuk oleh-oleh ke Banda Aceh. Bolu inilah salah satu yang membantu mengganjal laparnya bersama penumpang lain kala terjebak berhari-hari di perjalanan.

Hamdani bercerita, perjalanan dari Medan awalnya lancar, meski hujan sudah mengguyur di sepanjang perjalanan. Di beberapa titik sebelum Kota Langsa pohon mulai bertumbangan menutup badan jalan, Tetapi masih berhasil dilalui saatitu.

Hingga pada pukul 09.00 WIB Rabu pagi (26/11) saat bus mulai memasuki Kota Langsa, Aceh, air mulai tinggi. Di sinilah mereka mulai terjebak. ‘’Posisi lagi di Langsa, sudah 17 jam terjebak banjir,’’ujarnya saat mengirim WhatsApp terakhir ke keluarga sebelum lost contact berhari-hari.

Karena debit air terus naik, bus bertahan di Terminal Kota Langsa. ‘’Besok paginya Kamis (27/11) kami dan sejumlah penumpang lainnya memutuskan meninggalkan bus dan mencari bus lain yang balik ke arah Medan, namum tak ada satupun bus melintas untuk ditumpangi.

Kebetulan ada truk box container pengangkut paket barang online melintas menuju Medan. Kami pun menumpang di dalam box container-nya. Di dalamnya sudah ada sejumlah penumpang lainnya,’’ujarnya.

Hamdani memutuskan kembali ke Medan saat itu karena sama sekali tidak mengetahui kondisi jalan dan tidak menyangka ternyata keadaan arah balik lebih parah. Hamdani menyaksikan betapa dahsyatnya situasi setelah diterjang banjir bandang itu. Semua porak poranda. Perkampungan sudah rata.

‘’Memasuki Aceh Tamiang, air masih mengepung dengan ketinggian 3 sampai 4 meter. Bangunan terendam, kendaraan-kendaraan hanyut. Bahkan kami sempat melihat ada truk yang sampai nyangkut di atas truk lainya. Naik disapu banjir. Ada rumah terbawa arus banjir sampai ke badan jalan.

Tidak itu saja, bangkai hewan juga berhanyutan. Jenazah manusia juga ada yang sempat terlihat. Disinilah kami terjebakberhari-hari. Ditemani gemuruh air. Gelap, listrik mati, sinyal mati. Tidak ada makanan tidak ada minuman.Tidak ada pilihan selain bertahan di box container itu. Berhimpitan dalam pengap. Ada sekitar 30 orang di dalamnya,’’lanjutnya.

Seperti diketahui, Aceh Tamiang salah satu daerah yang terdampak paling parah di Aceh hingga disebut mirip tsunami kedua. Hampir seluruh Aceh Tamiang terendam banjir. Bencana ini telah merusak dan menghanyutkan ribuan rumah, memaksa lebih dari 206 ribu warga mengungsi dan menelan puluhan korban jiwa. Bahkan ada desa yang lenyap tersapu bandang. Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Aceh, terletak di perbatasan antara Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara.

Kembali ke Hamdani,ia bercerita dalam kondisi ketidakpastian kapan bisa kembali kumpul bersama keluarga, semua penumpang saling menguatkan dan menjaga. Supir dan penumpang berjibakuagar truk bisa menerobos banjir. ‘’Ada yang bertugas mengecek genangan air, ada yang mengingkirkan dahan-dahan pepohonan dan tiang tiang telpon yang tumbang dan memastikan apakah jalan aman dilalui. Jika tidak aman, kami bertahan kadang sampai bermalam. Begitulah seterusnya. Bersyukur supirnya lihai dan berani. Sesekali kami memekik keras saat truk oleng ke kiri - kanan,’’kenang Hamdani.

Setelah berhari terjebak, stok makanan pun sudah tidak ada. Lapar dan dahaga kian mendera. Beruntung, di satu tempat di Tualang Cut mereka mendapati kedai yang kebetulan buka dan masih menyimpan beras tersisa. Mereka pun diberi membeli 5 kg saja. ‘’Kami masak bersama di lokasi itu. Ada warga berbaik hati meminjamkan peralatan.

Kami ambil air dari musola. Namun ya airnya keruh la, bercampur lumpur. Kami coba saring pakai kain jilbab. Tetap kuning. Apa boleh buat. Kami pakai saja untuk masak dan minum. Disini kami sedikit bergembira bisa sedikit mengisi perut yang sudah meronta,’’ujarnya. Selama di perjalanan, Hamdani bersyukur sempat dua kali makan nasi walau hanya segenggam dua gengam.

Selebihnya diganjal rotikering seadanya dan selebihnya terpaksa menahan lapar. ‘’Tapi sebagian kami justru mengaku tidak merasakan lapar. Mungkin karena sangkin khawatirnya,’’ujarnya.

Minum, ujarnya juga sekedarnya. ‘’Kadang ketemu SPBU kami tampung air yang untuk isi radiator. Itulah diminum. Kadang untuk membasahi tenggorokan terpaksa minum air campur lumpur,’’ingatnya.

Hamdani melanjutkan, karena tak kuasa menahan letih dan jenuh, di sekitar lokasi Gardu induk PLN Tualang Cut sebelum Simpang Opak beberapa penumpang memilih keluar dari truk.

‘’10 orang mereka turun, 5 diantaranya wanita/ibu-ibu. Ada yang sambil menggendong anak balita, ada seorang ibu sekitar 60 tahun. Mereka mencoba mencari alternatif lain untuk bisa melanjutkan perjalanan.

Kepada saya mereka berpesan, siapa pun yang terakhir turun dari truk ini tolong titip tas kami ini kepada keluarga kami, siapa tau kami tidak bisa kembali,’’kenang Hamdani sambil menahan air mata mengingat saat itu. Syukurnya kata Hamdani rombongan ibu-ibu tersebut berhasil keluar melalui jalur laut dari Kuala Simpang ke Pangkalan Susu Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Walau harus berjalan kaki 20 km untuk mencapai pelabuhan.

Tantangan luar biasa terakhir yang dialami rombonganTruk adalah mendorong truk lain yang mogok dan menutup badan jalan dalam kondiri genangan air masih sekitar leher orang dewasa, di daerah sungai Liput, Kejuruan Muda.

Beruntung pula, di dalam rombongan ada dua pemuda Salman dan Imam yang kemudian oleh rombongan dipanggil duo Cianjur. Mereka adalah dua sahabat yang sudah menempuh perjalanan panjang 1 bulan dari Bandung menuju Banda Aceh untuk berziarah ke Makam Syiah Kuala, dengan menumpang berbagai truk, dan saat ingin kembali ke Bandung mereka juga terjebak banjir dan bergabung dengan truk kami. Mereka berperan aktif sebagai kernet truk, dengan gagah berani mereka menembus derasnya arus banjir demi memastikan truk akan aman untuk menembus banjir. "Selama perjalanan duo Cianjur duduk di atap truk. Di tengah kondisi serba kekurangan, jika malam tiba dan truk harus istirahat duo Cianjur ini memilih naik ke atas truk dan membaca Alquran yang dibawanya dari Bandung. Sayu sayu terdengar lantunan ayat suci Alquran menebus dinding truk, " ujar Hamdani.

Setelah total 7 malam 6 hari di perjalanan, diiring doa dan harapan, tepat pada 1 Desember 2025, seiring kumandang azan, Hamdani dan rombongan di Truk masuk ke perbatasan Aceh – Sumut dan muncul satu garis sinyal handphone sebagai modal berkabar kepada keluarga yang sudah berhari –hari diliputi cemas. ‘’1 Desember pukul 23.00 WIB, kaki ini berhasil menapak kering di tanah Medan yang sebelumnya selalu basah air lumpur siang malam,’’ujarnya.

Peristiwa traumatik tersebut tentunya tak akan pernah dilupakan Hamdani sepanjang hidup. Namun pengalaman yang dilalui membawa hikmah manis. ‘’Disini kami mendapat pelajaran tentang ikhtiar. Tentang makna perjuangan, tawakal, sabar, dan syukur. Tentang kemanusiaan, empati juga kebersamaan,’’ungkapnya. Hamdani dan penumpang lainnya telah dipertemukan dalam satu kondisi dimana kini mereka sudah terikat dalam kekeluargaan.

“Kalau istilah Jawanya Tunggal Sekapal, terwujud di sini. Tidak pandang suku, agama, jabatan dan lain-lain. Kita semua sama dengan satu keinginan. Bisa selamat pulang. Terima kasih kepada orang-orang baik yang membersamaiku. Semoga kita bisa memetik hikmah dan selalu mendapat pertolongan dan pelindungan dariNYA. Aamiin,’’tutup Hamdani. (asih astuti)

Editor : Redaksi
#banjir