Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Korban Kedua Pesawat ATR Ditemukan di Jurang 500 Meter, Evakuasi Masih Menantang Cuaca Ekstrem

Johan Panjaitan • Senin, 19 Januari 2026 | 22:06 WIB

Tim SAR saat berkumpul di area kaki Kunung sebelum melanjutkan pencarian hari Ke 3 jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung.( Dokumentasi Tim SAR/Jawa Pos)
Tim SAR saat berkumpul di area kaki Kunung sebelum melanjutkan pencarian hari Ke 3 jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung.( Dokumentasi Tim SAR/Jawa Pos)

PANGKEP, Sumutpos.jawapos.com-Operasi pencarian korban pesawat jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, kembali membuahkan hasil pada hari ketiga. Tim SAR Gabungan menemukan satu jenazah korban di dasar jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter, Senin (19/1).

Temuan tersebut dilaporkan hanya sekitar 15 menit sebelum konferensi pers resmi digelar di Kantor Basarnas Makassar. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengonfirmasi informasi itu melalui sambungan radio langsung dari tim di lokasi.

“Hari ini kembali ditemukan satu korban. Baru saja, kira-kira 15 menit sebelum konferensi pers dimulai,” ujar Syafii di hadapan awak media.

Baca Juga: PALU Desak Ketua PN Tanjungbalai Tahan Aliong, Terdakwa Dugaan Mafia Minyak Makan

Dengan temuan ini, dua dari total sepuluh penumpang dan awak pesawat telah berhasil ditemukan. Sebelumnya, satu jenazah ditemukan di jurang sedalam sekitar 200 meter. Korban kedua berada jauh lebih dalam, di medan yang digambarkan hampir tegak lurus dengan struktur bebatuan cadas.

“Kondisi lokasi sangat ekstrem, nyaris vertikal. Tim rescuer sudah mencapai posisi korban, namun proses evakuasi masih menunggu cuaca yang memungkinkan,” jelas Syafii.

Korban kedua diketahui berjenis kelamin perempuan. Namun, Basarnas menegaskan bahwa identifikasi korban sepenuhnya menjadi kewenangan tim medis dan Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri.

“Kami tidak berwenang menyampaikan identitas. Itu ranah DVI,” tegasnya.

Hingga kemarin, operasi udara masih terkendala fenomena base cloud atau awan rendah yang menyelimuti puncak Bulusaraung. Padahal, helikopter menjadi opsi tercepat untuk evakuasi, dengan estimasi waktu hanya sekitar 10 menit menuju bandara terdekat.

“Kami masih berada dalam fase golden time. Mohon doa agar cuaca segera terbuka sehingga proses evakuasi bisa dipercepat,” tambah Syafii.

Baca Juga: Buka Pasar Inpres, Wali Kota Tebingtinggi Tegaskan Kios Tepat Sasaran dan Bebas Penyimpangan

Sebagaimana diketahui, pesawat ATR 42-500 tersebut hilang kontak pada Sabtu (17/1) saat hendak mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat diketahui berada di luar jalur pendaratan yang semestinya. Petugas Air Traffic Control (ATC) sempat memberikan arahan koreksi jalur, namun tidak mendapat respons hingga akhirnya pesawat dinyatakan hilang kontak.

Pesawat tersebut bertolak dari Bandara Yogyakarta menuju Makassar dengan membawa 10 orang, terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Pemprov Sulsel Dorong Modifikasi Cuaca

Guna mempercepat proses pencarian dan evakuasi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengajukan permohonan modifikasi cuaca kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan hal tersebut saat meninjau Posko Advance Joint Operation (AJU) di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Kepala Basarnas.

“Kita menghadapi kendala cuaca. Hari ini kami resmi bersurat untuk pelaksanaan modifikasi cuaca,” ujar Andi Sudirman.

Ia menegaskan, Pemprov Sulsel memberikan dukungan penuh terhadap operasi SAR, termasuk melibatkan masyarakat setempat untuk membantu menjangkau titik-titik ekstrem di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Baca Juga: Identifikasi Korban ATR 42-500, Ayah Deden Maulana Diminta Kirim Foto Putra yang Tersenyum

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah IV Nasrol Adil memastikan satu unit pesawat telah disiapkan untuk mendukung teknologi modifikasi cuaca. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menilai langkah tersebut sangat krusial mengingat kondisi kabut tebal dan hujan ringan yang menghambat operasi udara.

“Cuaca di lokasi memang cukup mengganggu. Dengan modifikasi cuaca, kita berharap operasi pencarian dan evakuasi bisa berjalan lebih optimal,” ujar Dudy.(jpg/han)

Operasi SAR masih terus dilanjutkan dengan harapan cuaca segera membaik dan seluruh korban dapat ditemukan serta dievakuasi.

Editor : Johan Panjaitan
#basarnas #jurang #Pesawat ATR 42 500