Sumutpos.jawapos.com-Insiden kecelakaan pesawat perintis kembali terjadi di wilayah Papua. Kali ini, pesawat Cessna 208 Caravan milik maskapai Smart Air dengan nomor registrasi PK-SNS mengalami gangguan mesin dan melakukan pendaratan darurat di perairan Pantai Karadiri, Nabire, Papua Tengah, Selasa (27/1/2026).
Pesawat yang dipiloti Kapten Tania—seorang pilot perempuan berpengalaman diketahui telah melayani rute-rute perintis di Papua, dan lepas landas dari Bandara Nabire dengan tujuan Kaimana, Papua Barat. Namun, tak lama setelah mengudara, mesin pesawat dilaporkan mengalami gangguan serius.
Menghadapi situasi kritis tersebut, Kapten Tania segera mengambil keputusan penting dengan mencoba melakukan return to base (RTB) atau kembali ke Bandara Nabire demi keselamatan kru dan penumpang. Sayangnya, kondisi mesin yang terus memburuk membuat pesawat tak memungkinkan untuk mendarat normal di landasan pacu.
Dengan ketenangan dan perhitungan matang, Kapten Tania memilih opsi paling berisiko sekaligus paling rasional: pendaratan darurat di laut (ditching). Sekitar pukul 12.55 WIT, pesawat diarahkan ke perairan Pantai Karadiri. Benturan dengan permukaan air tak terelakkan, dan sebagian badan pesawat dilaporkan terendam laut.
Meski insiden tersebut tergolong serius, keajaiban terjadi. Badan pesawat tidak hancur, dan seluruh kru serta penumpang berhasil selamat. Jumlah penumpang yang tercatat dalam laporan bervariasi antara 11 hingga 13 orang, namun dipastikan tidak ada korban jiwa.
Detik-detik pascakejadian menjadi bukti profesionalisme Kapten Tania. Tanpa kepanikan, seluruh penumpang dievakuasi keluar dari kabin. Warga sekitar pantai yang menyaksikan kejadian itu bergerak cepat memberikan pertolongan, disusul tim penyelamat dari TNI, Polri, dan pihak bandara.
Seluruh korban selamat kemudian dievakuasi ke RSUD Nabire untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.
Kapten Tania dikenal sebagai salah satu pilot perintis yang mendedikasikan hidupnya untuk membuka jalur udara ke wilayah-wilayah terpencil Papua dan daerah dengan medan ekstrem, cuaca tak menentu, dan risiko tinggi. Hilangnya tenaga mesin sesaat setelah lepas landas merupakan skenario terburuk bagi pilot mana pun, namun laporan lapangan menyebutkan komunikasi Kapten Tania tetap tenang dan terkontrol.
Awalnya, ia berupaya membawa pesawat kembali ke bandara. Namun, ketika menyadari ketinggian dan daya mesin tidak lagi memadai, ia mengambil keputusan cepat yang menentukan nasib seluruh penumpang.
Keberhasilan pendaratan darurat di air merupakan salah satu manuver tersulit dalam dunia penerbangan. Banyak insiden serupa berakhir tragis. Namun, Kapten Tania berhasil mencatatkan akhir yang berbeda—tanpa korban jiwa.
Insiden di Pantai Karadiri menjadi bukti bahwa di dalam kokpit, yang menentukan bukanlah gender, melainkan pengalaman, ketenangan, dan keberanian mengambil keputusan demi kemanusiaan.(bbs/han)
Editor : Johan Panjaitan