Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Reagen Hantavirus Masih Terbatas, Kemenkes Perkuat Sistem Deteksi Dini

Johan Panjaitan • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:00 WIB
Kasus hantavirus ternyata sudah ditemukan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. (Instagram @pandemictalks).
Kasus hantavirus ternyata sudah ditemukan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. (Instagram @pandemictalks).

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Pemerintah mulai memperkuat langkah antisipasi menyusul meningkatnya perhatian dunia terhadap penyebaran hantavirus. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini mempercepat penguatan sistem deteksi dini, meski ketersediaan reagen khusus untuk mendeteksi virus tersebut di Indonesia masih terbatas.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan World Health Organization guna memperkuat mekanisme skrining dan pengawasan penyakit.

“Ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita sudah koordinasi dengan WHO. Kita minta guidance untuk bisa lakukan screening-nya,” ujar Budi.

Menurutnya, Indonesia memiliki keuntungan karena infrastruktur laboratorium PCR yang dibangun sejak pandemi Covid-19 masih tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung deteksi hantavirus secara lebih cepat.

Baca Juga: Bayar Pajak Kendaraan Dapat Minyak Makan 1 Liter, Pemko Siantar Genjot Kesadaran Wajib Pajak

“Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah,” katanya.

Namun demikian, Budi mengakui reagen khusus untuk pemeriksaan hantavirus belum tersedia secara luas. Karena itu, pemerintah sementara memfokuskan upaya pada penguatan surveillance atau pengawasan epidemiologi guna mendeteksi potensi penyebaran sejak dini.

Ancaman hantavirus sendiri bukan hal baru di Indonesia. Berdasarkan data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, berbagai penelitian menunjukkan virus tersebut telah ditemukan sejak dekade 1980-an dan masih terus beredar hingga sekarang.

Sejumlah studi di kota-kota besar mencatat tingkat seroprevalensi hantavirus pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen. Angka itu menunjukkan sebagian masyarakat diduga pernah terpapar virus meski tidak terdiagnosis secara klinis.

Sementara itu, tingkat infeksi pada tikus sebagai reservoir utama virus dilaporkan berkisar antara 0 hingga 34 persen, terutama di wilayah dengan populasi rodensia tinggi dan sanitasi lingkungan yang buruk.

Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling banyak ditemukan adalah Seoul virus yang dibawa tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Kasusnya pernah terdeteksi di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Denpasar.

Penularan virus umumnya terjadi melalui partikel udara yang terkontaminasi urin, air liur, maupun kotoran tikus. Risiko meningkat di lingkungan padat penduduk dengan pengelolaan sampah yang buruk.

Baca Juga: Sidang Korupsi Proyek Jalan Binjai, Hakim Perintahkan Jaksa Hadirkan Ulang Ahli

Gejala hantavirus pun kerap sulit dikenali karena menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah, tifoid, hingga leptospirosis. Penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, mual, kelelahan, hingga gangguan pernapasan.

Pada beberapa jenis hantavirus, tingkat kematian dilaporkan dapat mencapai 50 persen. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus spesifik untuk penyakit tersebut.

Pengamat kesehatan sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya telah melaporkan kasus hantavirus pada manusia sejak 2025.

Berdasarkan data Kemenkes, hingga 4 Agustus 2025 terdapat 10 kasus konfirmasi yang ditemukan di DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Namun hingga kini belum ada pembaruan resmi mengenai perkembangan kasus sepanjang 2026.

Tjandra menyoroti angka kematian hantavirus di Indonesia yang disebut mencapai 13 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata di Asia yang umumnya berada di bawah 5 persen.

Baca Juga: Perlindungan Jamaah Haji Khusus Sumut Diperkuat melalui Program JKN

“Memang disebutkan bahwa yang meninggal di negara kita ada komorbid. Tetapi di negara lain mungkin juga ada komorbid dan angka kematiannya lebih rendah,” ujarnya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu menegaskan, kewaspadaan harus terus ditingkatkan mengingat mobilitas manusia yang tinggi membuat penyakit menular dapat berpindah lintas negara dengan cepat.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#hantavirus #deteksi dini #kemenkes #who